Toga sebagai Pakaian Kelulusan


Pernah kah menyadari, bahwa kelulusan dari universitas dimanapun, selalu menggunakan pakaian toga?

Saya sendiri sebenarnya baru menyadari saat wisuda. Walaupun mungkin sedikit ada perbedaan model, tapi baik di universitas Indonesia maupun universitas di amerika tetap menggunakan toga (CMIIW). Kalau coba di cari, katanya toga berasal dari pakaian sehari-hari romawi, yang kemudian berubah menjadi pakaian pejabat, hingga kemudian di zaman sekarang menjadi pakaian kelulusan universitas.

Kira-kira apa ya, yang menjadi alasan pemilihan toga sebagai pakaian kelulusan? Kalau menurut saya, berdasarkan sedikit pengetahuan yang saya miliki, mungkin, alasannya adalah karena romawi pernah menjadi pusat peradaban. Atau mungkin toga sebenarnya dari tiongkok? Kalau dibanding-bandingkan, pakaian tionghoa sedikit mirip toga (agak lebar-lebar gitu…). Yunani sendiri, yang merupakan zamannya Plato, Aristoteles, dan lain-lain, juga mungkin dapat disebut sebagai awal peradaban intelektual, yang kemudian diasimilasi oleh romawi. Menurut saya toga berasal dari salah satu peradaban tersebut, untuk mencerminkan kemapanan secara intelektual.

Tapi entahlah.

Lalu, ada juga aktivitas simbolik memindahkan tali toga dari kiri ke kanan. Tapi entah kenapa di ITB tidak ada dilakukan. Kalau berdasarkan internet, katanya pemindahan itu untuk menyimbolkan berakhirnya penggunaan otak kiri (logika) selama kuliah untuk kemudian digunakan bersama-sama dengan otak kanan (kreativitas dan imajinasi) di dunia nyata. Mungkin di ITB tidak dilakukan karena kedua otaknya harus digunakan agar survive, kali ya?

Tapi, lagi-lagi, entahlah.

Mungkin ada yang mengetahui alasannya secara pasti?

 

Iklan

Kenapa KTP untuk umur 17?


Ini hanya sebuah pemikiran iseng.

Sebenarnya bukan KTP yang saya permasalahkan, tetapi adakah sebuah identitas yang berlaku untuk seorang warga negara Indonesia, mulai dari ia lahir, hingga ia meninggal? Apakah seorang bayi, belum menjadi penduduk Indonesia?

Sebenarnya pemikiran ini bermula dari kenyataan banyaknya anak jalanan. Kenapa mereka berada di jalan? Bukankah mereka merupakan tanggung jawab negara? Tapi kemudian jawaban saya atas pertanyaan saya adalah, bagaimana mendata mereka? Belum tentu mereka sudah memiliki KTP, atau bahkan punya keinginan untuk mengurus KTP.

Menurut saya, KTP yang baru ada pada umur 17 tetap diperlukan, tapi perlu ada identitas keseluruhan, yang mengaitkan seluruh identitas lain dengan identitas ini. Semacam single sign-on gitu deh. Kalau di US sono, namanya SSN, alias Social Security Number. Dari kecil (mungkin dari lahir) setiap penduduk (bahkan penduduk asing yang bukan wisatawan) diwajibkan memiliki SSN ini.

Segala sesuatunya perlu berhubungan dengan SSN ini. Mulai dari penghasilan, urusan pembuatan tabungan, surat izin, dan lainnya. Bahkan mungkin juga untuk urusan kesehatan.

Kata seorang sahabat, pas kecil kita menggunakan surat lahir. Nah, apa guna surat lahir ini? Cuma untuk masuk sekolah kan? Kalau mereka bukan orang mampu, dan tidak berpikir untuk sekolah, sehingga tidak mengurus surat lahir, dan kemudian anaknya hidup di jalanan, mereka siapa? Toh surat lahir dipakainya cuma untuk sekolah. Tapi ga tau sih, aku ga pernah ingat surat lahirku dipakainya untuk apa saja.

Sistem di Indonesia emang terkadang rada nyeleneh. Yang gampang dibuat susah. Yang perlu dianggap nyusahin. Entahlah.

The Fault in Our Stars


http://www.imdb.com/title/tt2582846/

Fault in Our Stars

First of all, I watched the movie, not read the book. POV I give will be based on the movie. Overall, it’s a decent movie. If you are melancholic person, I recommend it. If you are ignorant, you should watch it. But if you are easily depressed, you should only watched it in a happy condition, with happy and optimistic friends. It’s an anticipation to make you will still be able to do something productive on the next day.

No, the movie is not that gloomy. You will never tell yourself, “he should have done this, she should have done that” that make you depressed and screaming to the sky (yep, totally different with the latest Transformer). I think the story written quite flawless, you can understand the characters, hence you can easily immersed to the story and held captive.

There are some parts that interesting for me. I am going to describe it started from the most interesting.

 

Middle of sentence ending

It’s about a book that ended with half finished sentence. It’s an interesting idea, but totally overkill. There are many books that ended with many things not being told. Often it given to reader to fill it with their imagination, or there will be another sequel. A really really good book will give a satisfied ending, a balance between the unknown and the known, that tickle readers imagination to fill it with their own version.

But still, it’s an interesting idea. And it can’t be applied to many context, only in story that have tragic ending, where the story teller died at the end of story.

 

“Some infinities are bigger than other infinities.”

The simple example given to explain it was, real numbers between 0 and 1, vs  real numbers 0 and 2. Both are infinite, but intuition will make real numbers between 0 and 2 seems more than between 0 and 1.

It’s an interesting concept, but infinities are infinities and by concept it’s boundless. (Although there is something called continuum hypothesis)

Still, moral of the story, what given to you is boundless, when you asked for something, you are actually asking to increase the bound of the boundless. I mean, say thanks for what you have, you already have so many things, you know. Oh, it doesn’t mean you can’t ask, don’t misinterpreted it.

 

“Pain is to be Felt “

(or something like that)

I don’t know about you, but pain is perfectly okay in life. No matter who you are, life will go up and down, there will be joy and pain. With pain, you understand joy. With failure, you able to undestand success.

Also, pain is really need to be felt. DON’T RUN AWAY from the pains. Quote from another book, “Embrace the pain”. When you are able to past the pain, you will be able to  grow up. Like my love often said, you need to pass the exam before able to take the next level and the next step.

 

“Some people don’t understand the promises they’re making when they make them”

It’s just a reminder for me. My reaction is, it’s not I don’t understand, but I think I understand. Well, I still think it’s better to try than to give up.

 

ASAP – As Soon As Possible


Saat tidak menulis merupakan saat dimana muncul ide-ide menarik yang seharusnya dituang sebagai tulisan. Tapi tidak bisa dilakukan langsung karena ini-lah, itu-lah, yang memang benar-benar alasan dan tidak dibuat-buat. Saat alasan tersebut berakhir, dan anda sudah di depan komputer/laptop, keingingan menggebu-gebu yang sama untuk menulis ide tersebut tidak lagi ada. Bahkan terkadang lupa, apa ide yang ingin ditulis.

Mungkin hal ini tidak berlaku hanya untuk menulis, tapi juga hal-hal lain yang bersifat sama. Saat kita ingin untuk melakukan sesuatu, kita menunda-nunda hingga kemudian lost the feels. Walau pada awalnya kita sangat bersemangat membayangkan hal tersebut. Sungguh, seharusnya kita segera melakukan hal tersebut. Padahal mungkin hal yang ingin anda lakukan itu akan bermanfaat untuk orang banyak, tapi karena penundaan tersebut, mungkin saja itu tidak lagi bermanfaat, bahkan mungkin kehilangan kegunaannya. Bahkan mungkin anda akan kehilangan kesempatan besar karena penundaan itu.

ASAP – As Soon As Possible. Lakukan segera apa yang bisa kamu lakukan, before you lost the feels.

Lost the feels? Ya, kalau saya sih, melakukan sesuatu bukan karena ingin tidak akan membuat saya jadi melakukannnya. The feels is important. Jika anda merasa ingin melakukannya, lakukan. Kenapa harus memaksa diri untuk melakukan hal yang tidak ingin anda lakukan? Semakin anda memikirkan alasan untuk tidak melakukannya, semakan anda tidak akan melakukannnya. Alasan itu gampang dibuatnya, makanya kalau anda merasa benar-benar ingin melakukannya, jangan pikirkan alasan untuk tidak melakukan, langsung saja lakukan.

Is it works? Nope, ini hanya sebuah pengajuan pola pikir, kalau anda tidak memaksa diri tetap saja tidak akan melakukannya. You are you, isn’t it?

Social Post Moderators Wanted


I just read today Freshly Pressed, and you should read this too if you are a social networker.

Social Post Moderators Wanted.

My Opinion:

Well, in some side, this is true. I do agree, why do they post something like that? In my opinion, they just need a place to run from reality. But for others it is annoying, right? It is actually simple, we just need to remove them from friend.
“But they are my friend!”, if they are, then you should understand them. And a friend can give one minute to write “poor you” when her/his goldfish die. What? Some of them isn’t your friend? That’s your fault for confirming them as friend. It is what social network should be actually, a social, between friends, not with some stranger you-don’t-know-who-but-he/she-added-me-as-friend.

10.000 Jam


Pernah mendengar istilah 10.000 jam? Saya pertama kali menemukannya di bukunya Felix&Steven Halim, Increasing Lower Bound of Programming Contest. Dan kedua kalinya saya mendengar istilah ini saat seminar oleh pak Budi Rahardjo.

Apakah aturan 10.000 jam ini? Menurut aturan ini, jika seseorang ingin menjadi seseorang yang expert di suatu keahlian harus sudah menghabiskan waktu selama 10.000 jam agar benar-benar menjadi ahli. Jika ingin menjadi seorang gitarist terkenal, bermain gitarlah selama 10.000 jam. Jika ingin menjadi pembalap handal, habiskan 10.000 jam anda di arena balap. Jika ingin menjadi gamer handal, habiskan 10.000 jam memainkan game tersebut. Demikian juga jika ingin menjadi seorang coder handal, habiskan 10.000 jam berkutat dengan code.

Berapa lamakah 10.000 jam ini? Asumsikan 1 hari anda hanya melakukan 1 jam kegiatan tersebut, Do the math- It takes about 28 years, menghabiskan setengah waktu hidup. Sangat lama kan? Idealnya bagi orang yang bersungguh-sungguh ingin menjadi expert, 10 tahun adalah waktu yang cukup. Do the math- berarti kira-kira 3 jam dalam satu hari dilakukan untuk menekuni bidang tersebut.

Percayalah, jika sudah melewati 10.000 jam tersebut anda akan menjadi expert. Permasalahannya adalah, apakah anda sanggup bertahan untuk terus berjuang selama 10.000 jam? Ga sebentar lho itu 🙂

Way to Learn


Bagi saya, cara belajar yang paling efektif saat ini adalah dengan belajar dari masalah, dan menyelesaikannya. Mungkin karena itulah banyak yang bilang kalau belajar itu butuh latihan. Kenapa? Karena dengan latihan kita mencoba, dan jika mencoba, kita bisa bertemu dengan masalah.

Jika hanya melihat atau membaca saja, kapan kita akan bertemu dengan masalah? Bagi saya membaca kurang membangkitkan indra untuk berpikir. Berbeda saat dihadapkan dengan suatu masalah, kita dituntut untuk berpikir semaksimal mungkin. Mungkin itu juga yang menyebabkan kenapa banyak deadliner, haha, karena disaat terdesak butuh kemampuan berpikir yang maksimal :p

Jadi belajar itu mulailah dengan mencoba. Karena tanpa mencoba kita tidak akan bertemu dengan masalah. Saat sudah bertemu dengan masalah, cobalah cari penyelesaian dari masalah tersebut. Jika hanya didiamkan, tidak banyak pembelajaran yang kita dapat. Tapi jika berhasil menyelesaikannya, maka banyaklah ilmu yang didapat.

Hal ini sudah terjadi ke saya sendiri. Sudah sering baca teori A teori B, inheritance itu gini gitu, interface itu untuk ini untuk itu, tapi ya cuma dibaca doang. Baru saat diberi tugas diimplementasi, dan ternyata begitu banyak masalah yang ditemui. Tapi setelah berusaha semaksimal mungkin untuk menyelesaikannya, barulah itu namanya belajar.