Kenapa KTP untuk umur 17?


Ini hanya sebuah pemikiran iseng.

Sebenarnya bukan KTP yang saya permasalahkan, tetapi adakah sebuah identitas yang berlaku untuk seorang warga negara Indonesia, mulai dari ia lahir, hingga ia meninggal? Apakah seorang bayi, belum menjadi penduduk Indonesia?

Sebenarnya pemikiran ini bermula dari kenyataan banyaknya anak jalanan. Kenapa mereka berada di jalan? Bukankah mereka merupakan tanggung jawab negara? Tapi kemudian jawaban saya atas pertanyaan saya adalah, bagaimana mendata mereka? Belum tentu mereka sudah memiliki KTP, atau bahkan punya keinginan untuk mengurus KTP.

Menurut saya, KTP yang baru ada pada umur 17 tetap diperlukan, tapi perlu ada identitas keseluruhan, yang mengaitkan seluruh identitas lain dengan identitas ini. Semacam single sign-on gitu deh. Kalau di US sono, namanya SSN, alias Social Security Number. Dari kecil (mungkin dari lahir) setiap penduduk (bahkan penduduk asing yang bukan wisatawan) diwajibkan memiliki SSN ini.

Segala sesuatunya perlu berhubungan dengan SSN ini. Mulai dari penghasilan, urusan pembuatan tabungan, surat izin, dan lainnya. Bahkan mungkin juga untuk urusan kesehatan.

Kata seorang sahabat, pas kecil kita menggunakan surat lahir. Nah, apa guna surat lahir ini? Cuma untuk masuk sekolah kan? Kalau mereka bukan orang mampu, dan tidak berpikir untuk sekolah, sehingga tidak mengurus surat lahir, dan kemudian anaknya hidup di jalanan, mereka siapa? Toh surat lahir dipakainya cuma untuk sekolah. Tapi ga tau sih, aku ga pernah ingat surat lahirku dipakainya untuk apa saja.

Sistem di Indonesia emang terkadang rada nyeleneh. Yang gampang dibuat susah. Yang perlu dianggap nyusahin. Entahlah.

Iklan

Sebuah Artikel Kompasiana yang Menghilang


Jadi ceritanya siang ini dapat share artikel dari Facebook. Saya nge-share lagi artikel tersebut, tapi ternyata 1 jam kemudian ternyata artikel tersebut sudah menghilang. Kebetulan tab artikel tersebut belum saya close, sehingga saya bisa save dan bisa didownload di link ini.

Untuk yang malas ngedownloadnya, berikut saya copy-paste tulisannya. Kalau dilihat dari waktu rilisnya, sudah cukup lama sih, tanggal 18 May 2011 | 23:35, sehingga agak lucu kalau dihapus oleh pihak yang berwenang dengan sengaja. Mungkin dihapus oleh sistem secara otomatis. Entahlah~

Perlu diingat, ini BUKAN tulisan saya, saya hanya mengopy artikel yang saya baca, dan karena sumbernya sudah dihapus, well, let’s just say it’s a random page.

————————————————————————————————————–

Baca lebih lanjut

Monarki dan Demokrasi


Harusnya saat ini saya ngoding, tapi udah cape mikir. Padahal biasanya jam-jam segini masih jam-jam jenius, belum masuk ke jam bego. Tapi ya sudahlah. Sambil berusaha tidur, saya menulis saja mengenai hal yang sejak beberapa lama terpikirkan oleh saya. Perlu diperhatikan ini bukan bahasan serius dan mungkin ngasal, karena saya ga memberikan fakta ataupun bukti, jadi ya kalo ga setuju ya udah, jangan mencaci saya. Haha.

Taukan monarki ama demokrasi itu apa? Intinya sih, yang memegang kekuasaan tertinggi dalam pemerintahan itu kerajaan, atau raja, atau ratu, ya royal family lah. Sedangkan demokrasi itu kekuasaan tertingginya dipegang oleh rakyat.

Baca lebih lanjut

Little Alchemy


Baru nemu (ga baru juga sih, udah hampir seminggu) situs littlealchemy.com. Seperti namanya, situs ini bermain dengan alchemy, atau alkimia, yaitu ilmu yang berkaitan dengan unsur-unsur atau elemen. Ga tau sih apakah sama dengan kimia atau Chemistry. But in my opinion alchemy is older than chemistry, and chemistry come from alchemy.

Kalo dulu itu, ilmu alkimia dipelajari karena kepercayaan orang bisa mengubah batu menjadi emas. Setiap sesuatu berasal dari sesuatu yang lebih kecil, dan apakah mungkin penyusun tersebut bisa diubah menjadi bentuk yang lain? Pemikiran ini muncul tahun 1400-an. (mungkin, soalnya dari novel the Alchemyst, umurnya si Nicholas Flamel 600an, so it should be right).

Nah, kembali ke situs tadi, Baca lebih lanjut

Kenapa Milis Harus Menjadi Media Komunikasi Utama?


Ini adalah pendapat saya mengenai isu di milis HMIF yang sempat panas. Baru pertama kali ngelihat topik dengan total 27 email. Mungkin kalau dulu itu sudah biasa. Tapi saat ini hampir tidak pernah lagi.

Kalau saya pribadi sih lebih suka dengan milis karena informasi yang disampaikan bakal lebih jelas, dan kita tahu kalau itu adalah informasi. Kalau menggunakan facebook, yang umumnya dibuka saat bersenang-senang atau melepas jenuh dari Netbeans/Notepad++/Eclipse dkk, yang diharapkan ya senang-senang. 😉

Jadi kalau kebetulan ada informasi yang didapat pada saat tersebut tentu juga tidak bakal akan diterima lebih baik dibandingkan dengan saat membuka email yang tujuannya memang ingin mendapatkan informasi.

Mungkin ada yang lebih senang dengan cara sambil bersenang-senang, tapi ada lagi kekurangan media seperti itu. Ga bisa diarsipkan. Ibaratnya itu kaya surat howler (yang tau Harry Potter tau lah ya), habis dibaca langsung terbakar. Beda kaya surat biasa yang bisa di arsipkan.

Misalnya ada info beasiswa atau lowongan pekerjaan yang penting, tapi kita lagi sibuk, dan ingin mengeceknya di lain waktu, apakah di facebook bisa ditandai kalau itu akan dibaca lagi? Kalau email mah gampang, apalagi kalau gmail, tinggal klik aja bintangnya. Ini nih menurut saya alasan utama kenapa informasi harus lewat milis. Kalau ada yang lain ya terserah, tapi utamakan dulu milis baru yang sunahnya.

Kalau namanya anak Informatika, harusnya bisa dong memanfaatkan feature-feature teknologi yang udah ada secara optimal. FYI, dari email juga bisa untuk ngepost kegroup facebook, jadi kenapa ga buat lewat email, kirim ke milis dan group facebook. Beres kan?

Trus tambahan.. Apakah milis bahasannya harus se-strict itu? Ada ga sih media komunikasi di HMIF yang sifatnya senang-senang? Atau istilahnya untuk nge-junk? Serius-serius amat sih. Haha.

Pilkada Pekanbaru


Buat yang ga tau, Pekanbaru itu nama kota, ibukota Provinsi Riau. Riau itu ada di Pulau Sumatra, selatannya Singapura. Kalau kota, pemimpinnya disebut walikota. Pilkada itu, pemilihan kepala daerah. Nah baru-baru ini lagi di Pekanbaru lagi ramai dibicarakan tentang masalah ini.

Kenapa jadi masalah yang ramai dibicarakan? Habisnya pemilunya udah dilaksanakan 2 kali, tapi masih gak beres-beres. Pilkada yang pertama saya lupa kapan diadakannya, tapi pilkada yang kedua baru diadakan bulan Desember yang lalu. Calon di kedua pilkada ini sama, yang satu cowo, yang satu cewe.

Pilkada pertama yang dimenangkan oleh calon yang cowo dibatalkan karena dikatakan kalau ada terdapat kecurangan di suara yang diberikan pada salah satu calon. Oleh karena itu diadakanlah pilkada yang kedua. Setelah pemilu yang kedua ini terlaksana, calon yang cowo malah ingin digugurkan. Katanya administrasinya tidak benar, beristri dua tapi pada saat pendaftaran hanya punya istri satu. Haduh-haduh banyak alasan. Kalau salah administrasi, seharusnya dari awal sudah digugurkan, kenapa malah ditengah-tengah baru diungkit kembali. Kelihatan dibuat-buat.

Masalah ini membuat masalah yang lain. Beberapa masyarakat Pekanbaru yang mengatasnamakan warga Pekanbaru melakukan demo. Kalau demo berorasi menyampaikan pendapat saja sih masih okelah ya, tapi malah sampai melakukan vandalisme (perusakan barang umum) ke 2 tugu yang kebetulan berada dekat dengan lokasi demo yang dilakukan sambil membakar ban.

Tugu Zapin

Tugu yang sudah jelek semakin dijelekkan *sumber: http://pekanbaru.tribunnews.com*

Ban yang dibakar di jalan pusat kota dan mengganggu lalu lintas *sumber:http://pekanbaru.tribunnews.com*

Kalau menurut saya hal ini sangat tidak Melayu, sudahkah hilang Melayu di bumi? Orang Melayu itu ya, lemah-lembut dan santun, jarang yang mengeraskan suaranya. Selain itu juga sifat buruknya, “tak adee”, apapun pertanyaannya, jawabnya, “tak ade”. Pokoknya gak pernah selama 20 tahun saya hidup terjadi sebelumnya. Gimana ya rasanya. Sedih, kesal.

*I don’t wanna live in this planet anymore*