Pemilu, Pemecah Bangsa – Sang Pembuat Pilu


Pilu, saat mulai menetapkan pilihan, dan mulai mengungkapkan pendapat, semuanya berubah.

Saya tahu, mungkin pilihan saya tidak sempurna. Tapi kenapa kalian menuhankan pilihan kalian? Pilihan saya cacat. Pilihanmu juga cacat. Tidak ada manusia yang sempurna, teman. Tidakkah kau menyadari dirimu menyakiti teman yang telah bersamamu bertahun-tahun dengan tidak menghargai pilihannya?

Apakah itu yang dinamakan Bhinneka Tunggal Ika? Sudah lupakah dengan doktrinasi SD, berbeda-beda tetapi tetap satu? Ataukah sebenarnya hanya berbeda-beda tetapi cuma satu?

Ya, mungkin sebagian perbedaan tidak pantas diterima. Tetapi kenapa kalian melemparkannya ke orang yang tidak bersalah? Kenapa kalian melampiaskannya ke sahabat kalian, yang telah kalian kenal sekian lama? Pemilu lah yang membuat kalian lupa dengan ikatan tali silaturahmi.

Wahai saudara sebangsa dan setanah air, ingatlah kalian hidup di atas bumi pertiwi. Dengan penuh ragam suku budaya, adat istiadat dan etika. Media sosial, membuat jarak menghilang, sehingga kalian tidak sadar sentilan sederhana dapat menyinggung perasaan saudara kalian di pulau seberang.

Bukan, aku bukan mengeluh karena dari suatu pihak. Kedua pihak mengalami hal yang sama. Kalian mendukung A, tapi berada di daerah B? Semua terasa sedang menjelekkan A. Kalian mendukung B, tapi berada di daerah A? Semua terasa sedang menjelekkan B. Aku berada di keduanya, sehingga merasakan keduanya.

Sungguh menyedihkan. Mungkin karena itulah namanya pemilu. Pilu dengan imbuhan pe-, Pembuat Pilu.

Kisah Propemgraman


Ini adalah sebuah tulisan yang berusaha ditulis se-absurd mungkin untuk menjadi puisi. Mungkin dapat menjadi obat tidur bagi teman yang membaca. Kalau ada kritik silahkan, biar dibuat makin absurd. Oh iya, judulnya tidak typo.

—————————————————————————

Detik berlalu, namun ku tetap terpaku
Tanganku kaku menatap layar, tulisan putih diatas hitam
Sungguh, kumenunggu kompilasi yang tak kunjung selesai
Saat kau muncul dan berteriak,
Mana titik koma?!!

Kuubah dan kuketik lagi perintah kompilasi
g++, gcc. fpc, etc.
Kuingat kucatat dan kuhapal arti tiap perintah
Paksaan untuk ditulis dalam makefile
Tapi kemudian kumenyerah dan kopas saja yang lama

Itu dulu.
Kini kukenal eclipse dan netbeans
Leksikal, semantik analisis mewarnai merah
Cegah ku hilang titik koma
Walau sungguh tak kumengerti apa yang terjadi
Saat F6 dan F9 tak bekerja

 

Kini ku beranjak remaja
Kumengenal kisah seorang pekerja
Bosnya hanya bisa menyuruhnya kerja
Tanpa sepengetahuan bosnya, pekerja akan melukis
pekerja akan bernyanyi, agar pekerja selesai bekerja.
Kisahnya bernama enkapsulasi.

Kukenal dengan cerita tentang kendaraan yang abstrak
Ia pasti dapat berjalan, dan punya mesin.
Tapi realisasi yang tentukan cara berjalan
Dengan roda atau dengan sayap
Kisahnya bernama abstraksi

Akupun punya cerita
Tentang kesatria segala bisa
Saat perang ia menjadi jendral
Saat belanja ia menjadi pedagang
Mengubah diri sesuai dengan situasi
Kesatria itu bernama polymorphism

 

Kini ku beranjak dewasa
Belasan kelas telah kutulis
Tapi ku masih butuh ratusan lagi
Hingga kukenal dengan pustaka
Hap hap hap. Belasan pustaka terlahap.

Tapi pustaka satu ini sungguh menyakiti
Karena dia butuh pustaka A yang butuh pustaka B yang butuh pustaka C yang butuh pustaka D huaaaah
Saat itulah google bercahaya dengan harapan
menaut maven saudara ivy, menjadi penyelamat programmer
Solusi atas masalah ketergantungan pustaka.

 

Kini ku sudah tua
Tak kupersoalkan lagi hal-hal kecil
Aku hanya ingin semuanya cepat selesai
Semuanya harus efisien!
Djikstra, KNP, DP, Bellman-Ford, RBT,
Si A si B si C aku tidak peduli!
Yang penting N log N! karena kutak lagi muda

Kuajak teman-temanku yang lain
Bekerja dalam cluster secara paralel
Membagi masalah hingga kecil dan mudah
Setiap teman punya tugas masing-masing
Message Broker, Map Reduce, Elastic Search,

 

Kulupa kutaklagi di dunia
karena telah berada di awan.

 

A Poem of Coder – lebay version


Ini ada sebuah poem yang dibuat dalam 30 menit saat Cisitu lagi mati lampu dan perut dalam keadaan sakit. Tujuannya sebagai sebuah talent yang akan ditampilkan di “Talent Show” untuk calon asisten programming. Menceritakan kisah seorang coder (yang dilebay-lebaykan). Kenapa coder? Karena hidup saya akhir-akhir ini tidak lepas dengan code dan tidak bisa mencari inspirasi dari lain hal. Maaf~

nb: “//” artinya komentar

—-

Aku aku

Aku
Bermain dengan papan ketik // ngetik keyboard ceritanya
Mengusik masalah yang pelik // ya itu, ada tubes

Aku
Berdansa dengan tetikus // mainin mouse nih
Mendambakan saat yang mangkus // gimana ya supaya efisien?

Aku
Serangga musuh terbesarku // wah nemu bug nih
Kecil, mungil, mengikis waktuku // wew 1 jam habis gara-gara lupa i++

Aku
Dikejar irrasionalnya waktu // aaaa deadlineeeee
Tidak melar, ya, seperti batu // kak mundurin dong mundurin

Aku
Menderita dalam gelap // aaaa mati lampu
Tiada bisa terlelap // aaaa tubes belum beres aaaa

Aku
Punya dunia kedua // aku dan laptop
Tiada yang bisa mendua // kami saling memiliki :p

Aku
Didengar oleh dunia // iya dong, ceritanya lagi ngetik keyword di google
1 kata, ribuan yang iya // 1 kata aja bisa ratusan ribu nih balesannya

Aku
Aku. Ya, aku.
Aku aku. // peduli amat kata orang, aing mah kumaha aing

😛