Peter Parker Trending Topics on Twitter?


SPOILER ALERT!!

Baca lebih lanjut

Iklan

100th post


This is my 100th post. Saya udah mulai mencoba untuk tidak menelantarkan blog sejak akhir Februari. Maret April Mei Juni *counting with hand* Β 4 bulan. Dan sebelum aktif udah ada sekitar 20 post. Dirata-ratain, 1 bulan ada ngepost 20 tulisan. Hmm. Ga buruk. πŸ˜›

Targetnya sih tiap hari 1, berarti kurang 10 tulisan perbulan. Tapi ga mengapa. Karena dengan 20/bulan udah cukup banyak ngebuang waktu yang akan tersia-sia dengan kegiatan addicting lain yang akan menyedot lebih banyak waktu. Kaya main game, baca manga, dan.. hmm.. apalagi ya? Oke, saya akui saya bukan orang yang punya banyak pilihan untuk bersenang-senang -___-

Tulisan kali ini akan sangat berantakan, karena saya akan menulis apa yang terlintas di pikiran saya. Kalau ternyata ada yang mendapat sesuatu dari tulisan ini, Alhamdulillah, tapi kalau tidak, jangan berhenti membaca blog saya πŸ˜› Ga semua tulisan kaya gini kok. Kalau orang ada yang bersenang-senang dengan main game, saat ini saya sedang bersenang-senang dengan menulis.

Jadi teringat, sekitar ramadhan tahun lalu, ada teman yang menganjurkan untuk melakukan terapi menulis. Dia emang jurusan psikologi sih. Tapi ya ga langsung dipraktekin sarannya. Baru 4-5 bulan kemudain mencoba lagi. Hahaha. Bagaimana terapi menulis itu? Manfaatnya apa? Entahlah, yang saya tau, saya merasa lebih baik daripada saya yang tidak menulis. πŸ™‚ Try it.

Kok bisa bertahan menulis blog sih? Kenapa ya? Kalau saya sih karena ada statistic-nya si WordPress. Lihat nih:

Months and Years

Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec Total
2010 10 0 2 9 1 3 23 4 7 8 67
2011 10 43 926 460 1,138 456 3,033

Average per Day

Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec Overall
2010 1 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0
2011 0 2 30 15 37 21 18

Recent Weeks

Mon Tue Wed Thu Fri Sat Sun Total Average Change
May 16

32

May 17

34

May 18

16

May 19

0

May 20

12

May 21

344

May 22

109

547 78
May 23

49

May 24

37

May 25

20

May 26

72

May 27

26

May 28

21

May 29

13

238 34 -56.49%
May 30

20

May 31

9

Jun 1

20

Jun 2

10

Jun 3

6

Jun 4

13

Jun 5

21

99 14 -58.40%
Jun 6

4

Jun 7

12

Jun 8

8

Jun 9

26

Jun 10

44

Jun 11

8

Jun 12

67

169 24 +70.71%
Jun 13

92

Jun 14

36

Jun 15

8

Jun 16

7

Jun 17

14

Jun 18

2

Jun 19

4

163 23 -3.55%
Jun 20

8

Jun 21

37

Jun 22

9

54 23 -3.37%
Bukan karena saya suka angka-angka. Tapi penasaran, dengan blog yang ga punya topik khusus kaya gini kok ada yang baca? Haha. Dan penasaran itu terkadang meningkatkan keinginan untuk berusaha ngebuat sebanyak-banyaknya yang ngelihat. πŸ˜› Paling banyak dalam sehari itu 344 views, itu pas tulisan Indonesia dan Anak Bangsa, soalnya linknya di-post dimana-mana biar banyak yang baca. :))
Ga semua tulisan dipublikasiin kaya gitu kok. Kalau ga dipublikasiin, paling tinggi pernah 150-an. Tapi itu dalam 1 hari ada nulis 6 artikel apa ya? -___- Jadi semakin banyak artikel yang anda tulis dalam sehari, semakin banyak pula view pada hari itu. Pak Budi Rahardjo juga bilang gitu kok. Kalo viewnya mau banyak, rajin-rajinlah menulis. Hahaha.
Hem nulis apa lagi ya? Entahlah. πŸ˜›
Udah ah. Bye :-h
Just write.

What is Parent’s Love?


I know I am sick. I tried my best to not make other’s busy. Saya mencoba semaksimal mungkin untuk tidak merepotkan orang lain. Dan pernah dengar “lakukan orang lain selayaknya kamu ingin diperlakukan”? I am doing that.

Dan sekarang saya merasa baikan, lalu saya bertanya untuk meminta izin pergi sendiri saja ke dokternya, ibu saya malah marah. I don’t understand why she’s angry. 😦

I haven’t yet become a parents, not even in an act. Pengertian saya tentang kasih sayang orang tua hanya berdasarkan apa yang saya rasakan dari orang tua saya sendiri, dan lebih banyak lagi dari buku cerita yang saya baca. Yang saya rasakan dari orang tua saya tidak bisa saya lukiskan, mungkin begitu besar sehingga tidak bisa saya bayangkan atau ceritakan dengan kata-kata, berbeda dengan kasih sayang yang dilukiskan dalam cerita.

Apakah karena saya belum menjadi orang tua saya tidak bisa mengerti dengan orang tua saya? All of my time with my parents doesn’t make me understand a thing. And I hopes to be understood? Love is not logic, so I think I won’t be able understand it completely.

I know I will be a parent. Maybe in 10 years again I already have 2 children (someone said that :P). But still I don’t know what kind of parent I’ll be. Akankah saya terlalu mengasihi anak saya sehingga dia manja? Atau terlalu banyak mengatur sehingga dia terkekang? I have ever felt like that. I just don’t want tried to repeat mistakes I have seen. I don’t want my children have my bad. I know nothing is perfect, but I don’t want my children are nothing.

Apakah dengan memaksanya untuk terus belajar itu benar? Tentunya tidak.
Apakah dengan membiarkannya terus menikmati waktu dengan bermain benar? Tidak mungkin benar.
Tapi bagaimana membuatnya mengerti kalau itu harus? Entahlah.

Parent’s Love can’t be pictured.

I wrote this so I would remember. And keep in my mind my parent’s love me. I never say I love them. I will now. I love you, mom, dad. I just hopes my children will know he/she will always be loved.

6 Days. End.


#5 – Selasa, 7 Juni 2011

Hari itu cerah, pagi hari berlalu tidak seperti biasa karena akan ganti perban pertama kali. Dan selang yang dimasukkan di perutku akan dikeluarkan. Tanpa bius. Rasanya benar-benar tidak menyenangkan. Rasanya menusuk, tapi tidak juga, seperti ada sesuatu yang tajam, dan kemudian mengiris kulit. Bukan berarti aku pernah mengiris kulit. Tugas untuk guling kiri guling kanan pun selesai, tapi kemudian diharuskan untuk melatih berjalan siang itu. Hmm, langsung jalan? Karena udah bosan berbaring, ya oke-oke aja. Tapi saat mencoba duduk,  😐 rasanya dada itu runtuh dan menimpa perutku. Terbayang akan berjalan siangnya, hanya bisa pucat.

Pagi itu juga makan tidak cair pertama setelah operasi. Bubur Sumsum. Dengan gula merah yang dicairkan. Awalnya terasa enak. Apapun kalau udah lama ga makan rasanya pasti enak. Tapi lama kelamaan dengan manisnya yang keterlaluan jadi eneg. Yang penting makan.

Siangnya tiba. Dan saat mama akan pergi makan siang tiba, Lisa juga datang minjamin buku. Ada 3 buku, kokology, The Best Laid Plans, dan Twilight. Okay. Setelah makan siang ditemanin Lisa (makasih Lisa Y_Y), waktu membaca pun dimulai. Karena kokology yang paling tipis, jadi mulai dengan itu. Tapi belum lama mulai membaca, suster yang mengawasi tugas jalan pun datang. Hem hem. Jalan pun dimulai. Setelah selesai, membaca pun dilanjutkan. Tapi ga lama karena kemudian tertidur 1 jam. Setelah itu membaca lagi sampai kokology habis dan dilanjutkan dengan The Best Laid Plans.

Sorenya, ayah datang, akan gantian dengan mama yang akan pulang besok paginya. Dan seperti biasa, saya masih melanjutkan membaca. Malam itu The Best Laid Plans selesai, dan dilanjutkan membaca sedikit bagian twilight, hingga menemukan bagian yang aneh. Pas ditanyain ke empunya buku, ternyata emang salah cetak dan halamannya tertukar dengan New Moon, jilid 2 nya Twilight, wah kesalahan yang luar biasa. Sampai disitu berhenti. Karena udah cape juga sih. πŸ˜›

Tiduuuuuuuur.

#6 – Rabu, 8 Juni 2011

Pada pagi harinya, ibu pun pergi pulang kembali ke Pekanbaru. Dan ayah saya yang kemudian menemani menggantikan ibu. Saat dokter datang untuk mengganti perban, yang kali ini tidak sesakit yang kemaren, karena sudah tidak ada lagi mengeluarkan selang dari dalam tubuh. Jadi saya mengajak si dokter yang ternyata adalah perawat. Perawakannya tidak seperti perawat, dan pekerjaannya juga tidak seperti perawat, jadi saya rasa semua juga bakal salah mengira bahwa dia adalah seorang perawat.

Yang saya bicarain dimulai dengan peralatannya. Kasa yang digunakannya disimpan dalam wadah steril yang bersifat sekali pakai. Termasuk sarung tangannya, steril dan disimpan di wadah tersebut. Saya lupa nama wadahnya. Sepertinya wadah itu satu paket dengan isi-isinya (ada kasa, sarung tangan kaya karet ga tau bahannya, dll) karena wadah tersebut juga memiliki waktu kadaluarsa.

Apakah sarung tangan yang sudah dipakai bisa dipakai lagi? Katanya sih tidak, bisa aja sih disterilkan lagi, tapi statusnya udah ga sama lagi elastisitasnnya, mungkin udah melar dan macam-macam. Di daur ulang kah? Ada yang didaur ulang, ada beberapa yang langsung dibakar. Tapi kebanyakan di daur ulang, kami hanya mengelompokkan sampahnya, ada sampah medis, dan sampah lainnya. Yang kaya botol infus, dikelompokkan sesamanya, dikelompokkan juga berdasarkan warnanya. Baru kemudian di berikan atau dijual lagi ke yang berminat. Kami udah berusaha sebaik mungkin untuk mengurangi pencemaran lingkungan. Waw bagus deh mas, kalau gitu, haha.

Saat ganti perban selesai. Dokter menginformasikan kalau besok udah boleh pulang. (woot) Hore. Dan hari ini dilanjutkan dengan membaca twilight dengan nge-skip semua salah cetak yang ada. Sorenya udah beres, dan berusaha tidur secepatnya biar ga kebosanan. πŸ˜€

Besoknya? Selamat tinggal RS Santo Borromeus! I hope I will never come to see you again. :-h

Fault?


“It’s no one’s fault. The fault is the existences itself.”

Itu yang meresap di otak saya setelah menyelesaikan Vampire JuujikaiΒ yang di-suggest sama Hallucinogen sekian bulan yang lalu (yap, baru dibaca sekarang). Ga ada yang salah. Yang salah itu keberadaannya sendiri. You must read the manga kalau mau ngerti πŸ˜›

Kalau quote itu dibaca tanpa ngebaca manganya, mungkin akan timbul pemahaman yang ambigu. Itu adalah pemahaman yang sengaja ditimbulkan oleh penulis. πŸ˜›

6 Days. Beautiful. Lone.


#4 – Senin, 6 Juni 2011

Hari masih pagi saat aku bangun. Ibuku terbaring Β di lanta sebelah tempat tidurku. Suasana pagi yang tenang diderai oleh dentang bel gereja. Aku tidak mengerti maksud belnya, tidak berdentang tujuh kali yang menandakan sekarang pukul tujuh pagi. Mungkin menandakan waktu mulai bekerja atau hal lain. Entahlah.

Botol yang menampung cairan dari dalam perutku terhubung dengan selang, dan masuk menembus kulitku di kanan pusar. Perban yang melapisi dari kondisi non-steril juga menjaga agar selang tersebut tidak lepas dari dalam tubuhku. Perban kedua terdapat di bagian tengah tubuhku, sepanjang perut melintang hingga ke bagian bawah rusuk. Kedua perban kasa putih itu dilekatkan dengan plester di sisi-sisinya.

Okay, saya udah capek pura-pura menulis novel. -__-

Balik ke gaya biasa. Jadi pagi hari berlalu dengan biasa. Belum boleh makan. Belum boleh minum. Kemudian dokter Simon (ini dokter yang membedah saya) datang dan melihat kondisi. Dan kemudian dia memperbolehkan untuk minum. Paling banyak 10 cc untuk 1 jam. Sekitar 1 sendok makan. Ouch. Ya sudahlah paling ga udah boleh minum.

Siang ini mungkin temanku akan datang lagi. Tapi harapan itu tak kubiarkan melambung tinggi. Karena tau kemungkinan itu kecil. Berdasarkan pengalaman, kalau orang tua udah datang, maka kunjungan ke rumah sakit akan berhenti. Entah karena mereka segan, entah karena mereka menganggap dengan adanya orang tua udah cukup. Kalau saya sih tidak merasa cukup. -_- Teman itu beda dengan orang tua atau keluarga.

Dan benar saja. Hari berlalu dengan kebosanan hingga siang hari. Aku masih menaruh harapan kalau jam berkunjung sebenarnya jam 16:00. Ibuku kemudian ingin mampir ke kosan, mau mengambil beberapa barang lagi setelah kemaren sore ia juga telah kesana. Kalau kemaren saya nitip novel Time Quake, hari itu saya juga nitip Time Quake. Karena kemaren ibu salah membawa, bukan membawa Time Quake tapi membawa Software Engineering: AΒ PractitionerΒ Approach. Astaga. -____- Sepertinya ia hanya mencari buku paling tebal untuk dibawa dan bukan melihat judul.

Hari semakin panas. Perintah dokter Simon untuk menggeliat miring kiri miring kanan agar cairan kotor dalam perut keluar pun kulaksanakan dengan senang hati karena panas tubuh yang menempel ke kasur. Rasa ingin tidur hampir tidak ada karena panas itu. Dahaga semakin besar karena tidak ada lagi satu sendok makan air minum setiap jam. Tanganku tidak mampu menggapai meja di sisi kanan ku. Aku hanya bisa pasrah.

Saat ibuku pulang waktu membosankan pun berakhir. Karena novel Time Quake sudah berada di tangan. Dan sepanjang hari kuhabiskan dengan membaca novel tersebut. Sore berlalu begitu saja. Aku sudah lupa dengan jadwal berkunjung dan malam pun tiba. Sudah 3/4 bagian novel kuhabiskan. Dan baru terlintas pikiran di benakku bahwa sebaiknya aku menghemat bacaanku karena sudah tidak ada lagi yang bisa dibaca.

Aku berusaha menghabiskan waktu dengan usaha lain. Menghabiskan pulsa dengan browsing internet melalui HP. Menjawab beberapa pertanyaan yang bisa dijawab. Mengenai pertanyaan, aku teringat dengan jawaban pertanyaan dari ibuku yang bertanya apakah sakit. Aku hanya menjawab dengan tidak tahu. Aku sudah lupa bagaimana rasa tidak sakit. Perutku tidak terasa sakit saat itu tapi ini rumah sakit. Dan kegiatanku tidak normal. Entahlah.

Saat memegang HP, teringat untuk meminta pinjaman novel ke siapapun, dan kena sasaran ke Lisa, ia berjanji akan membawa beberapa buku miliknya esok hari. Aku pun sedikit lebih tenang untuk hari itu, setidaknya bisa melanjutkan bacaan. Tapi kemudian memilih untuk berusaha tidur.

Semakin kuberusaha tidur semakin tidak ingin tidur. Jam di HP sudah menunjukkan pukul 20:30. Aku meminta suster untuk mematikan lampu yang bersinar langsung tepat mengarah mataku, sebagai alasan tidak bisa tidur. Kamar pun jadi lebih gelap. Bilikku sudah cukup gelap malah. Tapi rasa gelisahku tak kunjung reda. Tidak bisa tidur, dan perut serasa bergemuruh, membuatku mual. Aku mulai memikirkan yang aneh-aneh. Berusaha mengalihkan perhatian, aku menyalakan lampu baca di tempat tidur dan mengambil kembali buku setengah selesai tadi.

Perasaan sakit di perutku itu tak kunjung hilang. Sementara bacaan yang kian mendekati akhir tak bisa mengalihkan perhatian dari rasa bergemuruh itu. Di puncak rasa sakit tiba-tiba muncul suara, yang saat itu ternyata sangat kurindukan. Rasa bahagia menemani hilangnya rasa rinduku. Rasa gemuruh itu reda menghilang bersama siksa batinku.

Inflatus.

Aku tidur setelah bacaanku habis.

Rate the Post


Saya baru tau (atau mungkin memang baru) dengan fitur Rating dari wordpress. Coba perhatikan bagian atas postingan/comment di blog saya, ada bintang-bintang kan? Nah itu untuk nge-rate sebuah artikel dari komen. Jadi instead of nge-like (yang 1 atau 0), kalian bisa nge-vote (1,2,3,4,5 atau tidak sama sekali) sebuah artikel atau komen.

Kalau kalian mau berbaik hati, tolong vote artikel/postingan dari blog saya yang kalian baca ya πŸ˜€ Biar ada feedback, seandainya pun ga dikomen, tapi kalau ada feedback ini, saya kan tau apakah postingan saya cukup bagus, atau masih harus diperbaiki. πŸ™‚

Sepertinya nge-vote juga ga perlu login, jadi bisa anynomous, ga perlu repot-repot sign-in atau apapun, tinggal klik bintangnya. πŸ˜€ Hehe.

Terima kasih πŸ˜‰