Ditelpon orang Forgerock


Ceritanya lagi eksplorasi mengenai tools yang dapat digunakan untuk centralized identity management. Salah satu tools yang dieksplorasi adalah OpenAM dan OpenIDM. Eksplorasi telah dimulai sejak 1 minggu yang lalu. License dari tools ini adalah CDDL. Tapi forgerock punya bisnis model khusus. Binary dari tools tidak dapat di download walaupun kodenya tersedia. Mungkin building dapat dilakukan mandiri, tapi kebenarannya tidak diketahui. Untuk mendapatkan binary yang telah melalu proses QA, pengguna harus menggunakan subscription license.

Hal tersebut lah yang dipromosikan oleh orang Forgerock yang menelepon (Somehow nomor yang digunakan untuk menelepon memiliki depan +62813). Saya merasa agak lucu, kode yang open source, tapi hanya sebagian saja. Jadi patch untuk setiap major version tidak di release ke publik. Hanya kode major version saja yang dirilis. Sementara untuk mendapatkan kode patch tersebut harus melakukan subscription.

Tapi emang sih, dari license-nya ditulis

3.1. Availability of Source Code.

Any Covered Software that You distribute or otherwise make available in Executable form must also be made available in Source Code form and that Source Code form must be distributed only under the terms of this License. You must include a copy of this License with every copy of the Source Code form of the Covered Software You distribute or otherwise make available. You must inform recipients of any such Covered Software in Executable form as to how they can obtain such Covered Software in Source Code form in a reasonable manner on or through a medium customarily used for software exchange.

Jadi sepertinya sah-sah saja kalau untuk mendapatkan kodenya harus bayar….

Toga sebagai Pakaian Kelulusan


Pernah kah menyadari, bahwa kelulusan dari universitas dimanapun, selalu menggunakan pakaian toga?

Saya sendiri sebenarnya baru menyadari saat wisuda. Walaupun mungkin sedikit ada perbedaan model, tapi baik di universitas Indonesia maupun universitas di amerika tetap menggunakan toga (CMIIW). Kalau coba di cari, katanya toga berasal dari pakaian sehari-hari romawi, yang kemudian berubah menjadi pakaian pejabat, hingga kemudian di zaman sekarang menjadi pakaian kelulusan universitas.

Kira-kira apa ya, yang menjadi alasan pemilihan toga sebagai pakaian kelulusan? Kalau menurut saya, berdasarkan sedikit pengetahuan yang saya miliki, mungkin, alasannya adalah karena romawi pernah menjadi pusat peradaban. Atau mungkin toga sebenarnya dari tiongkok? Kalau dibanding-bandingkan, pakaian tionghoa sedikit mirip toga (agak lebar-lebar gitu…). Yunani sendiri, yang merupakan zamannya Plato, Aristoteles, dan lain-lain, juga mungkin dapat disebut sebagai awal peradaban intelektual, yang kemudian diasimilasi oleh romawi. Menurut saya toga berasal dari salah satu peradaban tersebut, untuk mencerminkan kemapanan secara intelektual.

Tapi entahlah.

Lalu, ada juga aktivitas simbolik memindahkan tali toga dari kiri ke kanan. Tapi entah kenapa di ITB tidak ada dilakukan. Kalau berdasarkan internet, katanya pemindahan itu untuk menyimbolkan berakhirnya penggunaan otak kiri (logika) selama kuliah untuk kemudian digunakan bersama-sama dengan otak kanan (kreativitas dan imajinasi) di dunia nyata. Mungkin di ITB tidak dilakukan karena kedua otaknya harus digunakan agar survive, kali ya?

Tapi, lagi-lagi, entahlah.

Mungkin ada yang mengetahui alasannya secara pasti?

 

Kesan Pesan dan Kritik Mahasiswa ITB


Setelah melalui prosesi acara wisuda, baik syukuran maupun sidang terbuka, beberapa kali diadakan penyampaian kesan dan pesan oleh mahasiswa ITB. Kesan dan pesan ini tidak terbatas hanya berupa sanjungan, tapi juga dapat berupa kritik. Kritik ini bahkan dibacakan di depan umum dan orang tua mahasiswa.

Beberapa hal yang berkesan (dengan artian saya masih ingat) adalah sebagai berikut:

  • Cepatlah lulus, Indonesia sekarang bukan butuh aktivis, tapi engineer dan ilmuwan!
  • Mengangkat harkat dan martabat keluarga hanya dapat dilakukan melalui pendidikan (ia berasal dari keluarga kurang mampu)
  • Ingin mencari pasangan anak sipil, biar dapat membangun fondasi rumah tangga
  • Dosen banyak yang tidak penuh mengajarnya. // Sepertinya karena banyak proyek
  • Sangat-sangat banyak yang melakukan sesuatu karena orang tua.
  • Menunggu dosen berjam-jam hanya untuk bimbingan 10-15 menit
  • Teknik belajar 5S. 5 slide baru balas WA, Line, fb, etc.
  • Dan lainnya

Sebelumnya saya tidak pernah menghadiri acara wisuda, dan itu mungkin hal yang seharusnya saya sesali, tapi itu sudah berlalu sehingga tidak perlu disesali. Teman-teman yang masih di tingkat awal, hadirilah acara wisuda, baik sebagai protokoler, KPA, PSM, fotografer, atau perangkat lainnya. Yang penting saksikan acara wisuda, dan dengarkan baik-baik serta ikuti acaranya dengan penuh perhatian, karena itu akan mengubah hidupmu.

Tomorrow is (should be) a Big Day!


Setelah perjuangan bersimbah darah, besok adalah hari kemerdekaan dari status mahasiswa (or should be). Tapi masih ada paper yang akan dikumpul bulan depan. Dan masih belum dapat menikmati masa pengangguran (langsung kerja T_T. Eh, ^_^ // harus bersyukur)

Hari ini selain syukwis, juga sempat bertemu pertama kali dengan orang tua si doi. Merasa salting.banget.banget. Kirain bakal bisa berkelakuan cukup normal.

Semoga hari esok lancar.