Hidup yang Scalable


Hidup itu ga boleh terikat keadaan. Sama kayak webserver. Harus stateless biar scalable. Kalau gak, susah untuk serve million of users.

Kalau emang cuma serve sedikit user, ya silahkan kalau itu dapat memuaskan hidupmu. Kalo aku sih no. Ga bisa dan ga tahan. Hidup udah dikasi dengan kemampuan jauh lebih dari hewan tapi kok cuma pentingin diri sendiri. Yang membuat hidup lu terbatas ya keadaan. Balik lagi, emang keadaan apa yang mengikat lu? Lepasin aja ikatannya.

Tapi trade off sih memang ya. Semua hal memang ada trade off nya. Kalau pengen performance, kadang masalah di memory. Kalau pengen murah, malah masalah di kualitas. Balik lagi ke tujuan dari si software. Kalau soal hidup, balik lagi ke tujuan hidup lu apa.

Kalau gw pribadi sih, setelah pemikiran panjang bertahun-tahun, yang membuat gw sering stress dan hilang arah dan hilang (literally) karena tujuan hidup yang ga jelas, ya gw memilih untuk memberi berkat ke banyak orang. Untuk serve millions of people. Itu. Tidak. Gampang. Banyak konflik kepentingan.

Banyak sih yang mau dilepaskan uneg-unegnya. Tapi ya sudahlah.

2 thoughts on “Hidup yang Scalable

  1. dulu gue juga gitu din, setaun ga coding dan kerja macem2. ada waktunya kita hilang arah, tapi dari situ belajar, kalo udah agak hilang, coba cari orang yang lebih tua or at least dewasa. ga semuanya bisa diselesaikan sendiri, ga scalable.
    what doesn’t kill you, makes you stronger.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s