2016 is Now!


Remember Sam**ng G***xy tagline? Next is now! 2016 is now!

Do you know when people get older, often they will feel time flies faster? I’ll try to tell you why based on some theorems out there. Let’s say a man life X years, and one year is 365 days. Age 1, he have passed 1/X of his lifetime, hence he have (X-1)/X lifetime left. Each day he will pass (X-1)/365 of his lifetime. At age 20, he have passed 20/X of his lifetime, hence he have (X-20)/X lifetime left. Each day he will pass (X-20)/365 of his lifetime. (X-20)/365 is noticeably less than (X-1)/365. Human mind’s perceived that as time flies faster. Q.E.D.

Baca lebih lanjut

Iklan

Solid or Diversified?


Pagi tadi adalah gladi resik wisuda ITB periode Juli 2014. Pada saat gladi mencapai kata sambutan dari Rektor, yang diperankan oleh Pak Hasan (Wakil Rektor Bidang Komunikasi, Kemitraan, dan Alumni) — CMIIW — beliau menyampaikan sambutan versinya sendiri.

Selain ucapan selamat, beliau juga menyampaikan jalur kedepannya bagi mahasiswa yang ingin melanjutkan studi. Ada dua jalur yang beliau anjurkan. Jika ingin menjadi dosen, pilih jurusan yang sama dengan jurusan saat ini, baik untuk S2 maupun S3. Sementara jika ingin bergerak di bidang pemerintahan atau lainnya, pilih jurusan yang berbeda. S1 Informatika, S2 Ekonomi, dan S3 mungkin ilmu pemerintahan.

Ini merupakan opini yang menarik. Saya sendiri merasa opini ini cukup baik dan ada benarnya. Ilmu yang terdiversifikasi membuat pandangan lebih luas sehingga tidak terpaku ke satu sisi saja. Pemerintahan menurut saya cukup diperlukan pandangan yang luas dan pemikiran yang out-of-the-box. Maksud saya pemerintahan tentunya bukan hanya orang kantor yang datang kantor duduk leha-leha dapat gaji. Tapi pemimpin yang dapat menggerakkan dan mengawasi bawahan untuk dapat menyelesaikan tugas sebaik-baiknya, sehingga dapat menjamin kehidupan rakyat yang makmur dan sejahtera.

Ilmu yang khusus memang diperlukan untuk menjadi dosen, dimana dosen ini menjadi tokoh utama dalam pelaksanaan riset di universitas. Riset-riset universitas ini sendirinya diharapkan dapat memajukan bangsa dan memenuhi kebutuhan rakyat.

Kedua pilihan ini merupakan bentuk pengabdian. Suatu saat nanti mungkin saya akan mengalami diversifikasi atau solidifikasi. Kemanapun angin berhembus.

The Fault in Our Stars


http://www.imdb.com/title/tt2582846/

Fault in Our Stars

First of all, I watched the movie, not read the book. POV I give will be based on the movie. Overall, it’s a decent movie. If you are melancholic person, I recommend it. If you are ignorant, you should watch it. But if you are easily depressed, you should only watched it in a happy condition, with happy and optimistic friends. It’s an anticipation to make you will still be able to do something productive on the next day.

No, the movie is not that gloomy. You will never tell yourself, “he should have done this, she should have done that” that make you depressed and screaming to the sky (yep, totally different with the latest Transformer). I think the story written quite flawless, you can understand the characters, hence you can easily immersed to the story and held captive.

There are some parts that interesting for me. I am going to describe it started from the most interesting.

 

Middle of sentence ending

It’s about a book that ended with half finished sentence. It’s an interesting idea, but totally overkill. There are many books that ended with many things not being told. Often it given to reader to fill it with their imagination, or there will be another sequel. A really really good book will give a satisfied ending, a balance between the unknown and the known, that tickle readers imagination to fill it with their own version.

But still, it’s an interesting idea. And it can’t be applied to many context, only in story that have tragic ending, where the story teller died at the end of story.

 

“Some infinities are bigger than other infinities.”

The simple example given to explain it was, real numbers between 0 and 1, vs  real numbers 0 and 2. Both are infinite, but intuition will make real numbers between 0 and 2 seems more than between 0 and 1.

It’s an interesting concept, but infinities are infinities and by concept it’s boundless. (Although there is something called continuum hypothesis)

Still, moral of the story, what given to you is boundless, when you asked for something, you are actually asking to increase the bound of the boundless. I mean, say thanks for what you have, you already have so many things, you know. Oh, it doesn’t mean you can’t ask, don’t misinterpreted it.

 

“Pain is to be Felt “

(or something like that)

I don’t know about you, but pain is perfectly okay in life. No matter who you are, life will go up and down, there will be joy and pain. With pain, you understand joy. With failure, you able to undestand success.

Also, pain is really need to be felt. DON’T RUN AWAY from the pains. Quote from another book, “Embrace the pain”. When you are able to past the pain, you will be able to  grow up. Like my love often said, you need to pass the exam before able to take the next level and the next step.

 

“Some people don’t understand the promises they’re making when they make them”

It’s just a reminder for me. My reaction is, it’s not I don’t understand, but I think I understand. Well, I still think it’s better to try than to give up.

 

Ngobrol sendiri


Seringkali sih pas lagi ngapain gitu (misalnya makan, bawa motor), trus tiba-tiba mikir sesuatu, nah pas lagi mikir ini kaya lagi ngobrol. Dulu pas KAP ada dikasi tau deh apa nama istilahnya. Obrolannya sendiri sih macem-macem. Syukur-syukur yang diobrolin penting, tapi terkadang ga penting juga sih (kenapa sesuatu namanya ‘x’). Tapi pas ngobrol ini terjadi diskusi, nah pas terjadi diskusi muncul kesimpulan kan? Kesimpulan ini ya terkadang dirasa cukup penting untuk diungkapkan.

Biasanya sih media yang digunakan adalah twitter. Tapi permasalahan di post sebelumnya muncul lagi. Sebegitu pentingnya kah sampai harus nge-tweet? Jadi ngerasa attention bitch gitu harus di post dan ada yang ngasi tanggepan. Ya kalo dikasi tanggepan. Kalo ga dikasi tanggepan kesannya kaya protes-protes doang dong, ga dapet feeedback. Kaya misalnya, salah satu hasil diskusi yang udah lama, “orang yang buat design document pasti bisa ngoding”, alasannya, kalau ga bisa ngoding, itu dokumen apa bisa dipercaya? Seenaknya aja ngerancang sesuatu yang mustahil. Nah dari situ muncul “pandangan sinis” terhadap orang yang cuma pengen buat dokumen doang. Kalo aku ngetweet kaya gitu, kesannya gimana coba?

Nah kebetulan tadi pas keingat lagi hasil diskusi itu lagi ada ardhin, jadi diutarakan lah pendapat itu. Si Ardhin setuju, tapi dia bales balik, untuk analisisnya gimana? Nah ternyata ada bolongnya kan pendapat aku itu, karena lupa dengan tahap analisis. Mikirnya selalu dari tahap konstruksi doang. Haha. Kalau cuma ditweet, yakin deh bakal cuma jadi text yang kemudian terpendam di linimasa yang sekian banyak.

Tapi ada permasalahan lain, ngetweet itu bisa dimana saja, ngobrol ama orang ga bisa sembarang orang dan ga bisa sembarang waktu dan tempat.

Seberapa penting sih ngetweet?