Rate the Post


Saya baru tau (atau mungkin memang baru) dengan fitur Rating dari wordpress. Coba perhatikan bagian atas postingan/comment di blog saya, ada bintang-bintang kan? Nah itu untuk nge-rate sebuah artikel dari komen. Jadi instead of nge-like (yang 1 atau 0), kalian bisa nge-vote (1,2,3,4,5 atau tidak sama sekali) sebuah artikel atau komen.

Kalau kalian mau berbaik hati, tolong vote artikel/postingan dari blog saya yang kalian baca ya 😀 Biar ada feedback, seandainya pun ga dikomen, tapi kalau ada feedback ini, saya kan tau apakah postingan saya cukup bagus, atau masih harus diperbaiki. 🙂

Sepertinya nge-vote juga ga perlu login, jadi bisa anynomous, ga perlu repot-repot sign-in atau apapun, tinggal klik bintangnya. 😀 Hehe.

Terima kasih 😉

Love?


There is this quote that I found recently from other’s blog.

If you love two people at the same time,choose the second one. Because if you really loved the first one, then you wouldn’t have fallen for the second

Funny eh? But quite right. Now that I haven’t really fallen for anyone, does that mean I really love that one?

Haha post random yang kepikiran saat lihat ini. Tenang, ga galau kok, kalau ada yang khawatir 😛

A Poem of Coder – lebay version


Ini ada sebuah poem yang dibuat dalam 30 menit saat Cisitu lagi mati lampu dan perut dalam keadaan sakit. Tujuannya sebagai sebuah talent yang akan ditampilkan di “Talent Show” untuk calon asisten programming. Menceritakan kisah seorang coder (yang dilebay-lebaykan). Kenapa coder? Karena hidup saya akhir-akhir ini tidak lepas dengan code dan tidak bisa mencari inspirasi dari lain hal. Maaf~

nb: “//” artinya komentar

—-

Aku aku

Aku
Bermain dengan papan ketik // ngetik keyboard ceritanya
Mengusik masalah yang pelik // ya itu, ada tubes

Aku
Berdansa dengan tetikus // mainin mouse nih
Mendambakan saat yang mangkus // gimana ya supaya efisien?

Aku
Serangga musuh terbesarku // wah nemu bug nih
Kecil, mungil, mengikis waktuku // wew 1 jam habis gara-gara lupa i++

Aku
Dikejar irrasionalnya waktu // aaaa deadlineeeee
Tidak melar, ya, seperti batu // kak mundurin dong mundurin

Aku
Menderita dalam gelap // aaaa mati lampu
Tiada bisa terlelap // aaaa tubes belum beres aaaa

Aku
Punya dunia kedua // aku dan laptop
Tiada yang bisa mendua // kami saling memiliki :p

Aku
Didengar oleh dunia // iya dong, ceritanya lagi ngetik keyword di google
1 kata, ribuan yang iya // 1 kata aja bisa ratusan ribu nih balesannya

Aku
Aku. Ya, aku.
Aku aku. // peduli amat kata orang, aing mah kumaha aing

😛

Musik? Hem…


Siapa yang suka musik? Siapa yang punya musik terfavorit? Siapa punya penyanyi idola?

Dari 3 pertanyaan diatas, pasti setidaknya kalian mengacungkan tangan di salah satu pertanyaan, bahkan mungkin banyak di ketiganya. Sayangnya, saya tidak mengacung untuk ketiganya.

Aneh mungkin, saat kalian melihat ada orang yang ga suka dengar musik. Tapi begitulah, musik tidak membuat saya menjadi lebih tenang yang kata banyak orang musik itu untuk refreshing. Musik membuat saya gelisah, dan terkadang pusing sehingga tidak bisa berpikir. Haha. Tapi begitulah nyatanya.

Pada awalnya sih saya oke-oke aja dengan musik. Bahkan di saat SMA saya menjadi yang dicari kalau mau minta lagu. Entah dari mana koleksi lagu mp3 di hardisk saya cukup banyak dan sengaja saya susun rapi. Tapi semua lagu tersebut hampir tidak ada yang saya dengarkan. Hingga saya benar-benar sadar bahwa percuma saya menyimpan lagu-lagu tersebut jika tidak didengarkan. Maklum, dulu kapasitas hardisk hanya 40GB, bayangkan aja ribuan lagu di hardisk tersebut, berapa sisanya?

Sejak saya memutuskan untuk menghapus seluruh lagu tersebut, perasaan yang awalnya fine-fine saja dengan musik, lama kelamaan mulai berubah menjadi rasa benci dan menimbulkan efek-efek psikologis yang negatif. Sehingga membuat saya benar-benar membenci musik.

Ga peduli apa kata orang, saya memutuskan untuk membenci musik. Haha.

Ada kah diantara kalian yang tidak menyukai musik seperti saya? Sepertinya tidak.

Whose your life is?


Untuk siapa hidupmu? Jawaban yang pasti sih untuk Tuhan, karena dia yang menciptakan. Tapi saya ingin membahas dari sisi dunia aja.

Ada yang kuliah karena disuruh orang tua, atau demi orang tua. Banyak mungkin. Salahkah itu? Entahlah. Mungkin tidak salah. Asalkan tidak menjadi penghalang untuk berkembang. Terkadang kan masih ada orang tua yang memaksakan keinginan agar anaknya jadi dokter atau apa.

Kalau saya sih hidup saya untuk diri saya sendiri. Karena itulah terkadang saya jadi orang yang terlalu sesuka hati, atau seenaknya saja. If I want to do it, I will, if not I won’t. Bahkan saya terkadang merasa durhaka, atau kejam terhadap orang lain. Haha. Maaf ya.

Pernah sih, saya merasa menyerahkan hidup saya ke orang lain, tapi saat orang tersebut pergi, hidup saya kemana? Sebelum saya menikah sepertinya saya tidak akan menyerahkan hidup saya lagi ke orang lain. Haha.

Paham?


Bagaimana anda bisa yakin bahwa diri anda telah paham atau mengerti terhadap sesuatu?

Bagi saya, saya berani mengatakan saya paham terhadap sesuatu hal jika saya bisa menjelaskan hal tersebut ke orang lain. Jadi saya lebih percaya diri kalau saya siap untuk ujian / hal lainnya, jika saya sudah bisa mengajarkannya. Kenapa demikian?

Untuk membuat orang lain mengerti tidak bisa hanya dengan menjelaskan begitu saja. Tapi juga harus berusaha tahu kenapa dia bisa tidak mengerti. Dan tahu kenapa tidak bisa mengerti itu bisa karena sudah paham, sehingga jika ada sedikit saja pengertian yang menyimpang dari penanya, maka langsung bisa dikembalikan ke jalan yang benar. :))

Saya sih ga berani mengajarkan sesuatu yang tidak saya mengerti atau setengah mengerti. Bagaimanapun ilmu itu termasuk amal jariyah, jadi kalau ilmu yang kita ajarkan salah, jadinya dosa jariyah dong? Dosa saya sudah banyak, jangan ditambah lagi dengan dosa yang mengalir 😦

Tapi ada sih, orang jenius yang seharusnya mereka mengerti dengan sesuatu hal tersebut, toh gelar sarjana mereka di bidang itu. Tapi tidak bisa membuat yang diajarnya mengerti. Mengapa? Menurut saya ada dua kemungkinan.

Kemungkinan pertama, sang profesor sudah sekian lama berkutat dengan ilmu yang jauh lebih susah, sementara yang diajarkannya adalah hal kecil yang DULU susah, tapi karena udah master jadi gampang. Dan sayangnya sang profesor telah lupa kenapa itu susah, sehingga dia bingung kenapa yang diajar tidak mengerti. Saya juga sempat merasakan hal ini saat mengajar anak sma beberapa waktu yang lalu setelah terakhir kali mengajar lebih dari 1 tahun, heran kenapa hal sepele ini tidak bisa mengerti.

Kemungkinan kedua, dia hanya punya gelar palsu. 😛 Ya dia aja ga ngerti gimana bisa ngasi tahu yang lain biar bisa ngerti? Haha. Jadinya pura-pura ngerti deh.

Ada kemungkinan yang lain?

Way to Learn


Bagi saya, cara belajar yang paling efektif saat ini adalah dengan belajar dari masalah, dan menyelesaikannya. Mungkin karena itulah banyak yang bilang kalau belajar itu butuh latihan. Kenapa? Karena dengan latihan kita mencoba, dan jika mencoba, kita bisa bertemu dengan masalah.

Jika hanya melihat atau membaca saja, kapan kita akan bertemu dengan masalah? Bagi saya membaca kurang membangkitkan indra untuk berpikir. Berbeda saat dihadapkan dengan suatu masalah, kita dituntut untuk berpikir semaksimal mungkin. Mungkin itu juga yang menyebabkan kenapa banyak deadliner, haha, karena disaat terdesak butuh kemampuan berpikir yang maksimal :p

Jadi belajar itu mulailah dengan mencoba. Karena tanpa mencoba kita tidak akan bertemu dengan masalah. Saat sudah bertemu dengan masalah, cobalah cari penyelesaian dari masalah tersebut. Jika hanya didiamkan, tidak banyak pembelajaran yang kita dapat. Tapi jika berhasil menyelesaikannya, maka banyaklah ilmu yang didapat.

Hal ini sudah terjadi ke saya sendiri. Sudah sering baca teori A teori B, inheritance itu gini gitu, interface itu untuk ini untuk itu, tapi ya cuma dibaca doang. Baru saat diberi tugas diimplementasi, dan ternyata begitu banyak masalah yang ditemui. Tapi setelah berusaha semaksimal mungkin untuk menyelesaikannya, barulah itu namanya belajar.