Analisis Kejadian KM-ITB vs Jokowi


Disclaimer: Ini adalah delusi dan halusinasi pikiran saya. Anggap sebagai fiksi, kesamaan nama, tempat, dan lain-lain adalah akibat pengaruh dunia nyata.

 

Jadi saya terlibat dengan kejadian hari ini di kampus mengenai kehadiran Jokowi untuk kuliah umum. Sebenarnya saya sangat malas dengan politik, karena penuh dengan intrik. Bagi yang sering membaca novel dengan latar belakang kerajaan, mungkin mengenal istilah Game of House.

Ceritanya Jokowi diundang pada beberapa minggu / bulan yang lalu untuk memberikan kuliah umum. Namun beliau berhalangan dan baru bisa hadir hari ini, pada saat yang sama dengan penandatanganan MoU antara ITB dan Jakarta.

Ada 2 hal yang bisa dilihat disini, Jokowi sengaja menunda dan “memilih kesempatan yang lebih tepat”, atau memang berhalangan. KM-ITB, yang menekankan “Tolak Politisasi Kampus”, atau “Sikap Netral Politik” atau apapun itu namanya, tidak ingin melepaskan kemungkinan pertama karena waktu sekarang adalah masa kampanye politik. Dengan bersenjatakan peraturan KPU 15/2013 Pasal 17 ayat 1 poin a yang berbunyi sebagai berikut:

“Alat peraga kampanye adalah semua benda atau bentuk lain yang memuat visi, misi, program, dan/atau informasi lainnya yang dipasang untuk keperluan Kampanye Pemilu yang bertujuan mengajak orang memilih Peserta Pemilu dan/atau calon anggota DPR, DPD dan DPRD tertentu.”

Dengan definisi alat peraga kampanye di Pasal 1 ayat 22:

“Alat peraga kampanye adalah semua benda atau bentuk lain yang memuat visi, misi, program, dan/atau informasi lainnya yang dipasang untuk keperluan Kampanye Pemilu yang bertujuan mengajak orang memilih Peserta Pemilu dan/atau calon anggota DPR, DPD dan DPRD tertentu.”

Jika kita melihat definisi tersebut, apabila Jokowi menyampaikan visi, misi atau program atau informasi apapun yang menjadi kepentingan kampanye, Jokowi adalah alat peraga kampanye.

KM-ITB menekankan untuk menolak politisasi kampus. Namun, menurut saya KM-ITB kurang bijak dalam menangani hal ini. KM-ITB terang-terangan berdemo dan menekankan hal tersebut, seakan-akan yang ditolak adalah Jokowi. Padahal dalam rangkaian acara Jokowi akan memberikan kuliah umum mengenai tata kota Jakarta. Walaupun mungkin Jokowi memang “memilih kesempatan yang lebih tepat” untuk memberikan kuliah umum. Sikap netral berubah menjadi Sikap Anti Jokowi.

Jokowi yang mungkin menunda kuliah umum dan memilih kesempatan  yang lebih tepat menurut saya normal dalam politik, atau Game of House. KM-ITB sayangnya tidak bisa melakukan permainan yang sama, ya toh menolak politisasi kampus, ya mana ngerti yang namanya permainan politik. Sikap netral bukan dengan berdemo dan berteriak menolak di depan Jokowi. Menurut saya, sikap netral adalah mencegah (dalam artian, jangan berikan kesempatan Jokowi memberikan kuliah umum), atau jika sudah terlanjur basah (karena sudah diberikan undangan atau tidak bisa dicegah) dengan mendengarkan tapi tidak memberikan janji.

Lagian seandainya Jokowi datang, kemudian memanfaatkan kesempatan untuk berkampanye, secara tidak langsung Jokowi telah melanggar peraturan KPU tersebut, karena telah menjadi alat peraga kampanye. Lawan politik Jokowi seharusnya memilih langkah ini dan melaporkan ke KPU, karena menurut saya lebih cantik. Walaupun cara ini riskan, karena apabila Jokowi dapat menyampaikan kuliah dengan baik, besar kemungkinan citranya malah akan meningkat. Lawan politik yang takut mungkin lebih memilih untuk mencegah dengan segala cara agar Jokowi tidak memberikan kuliah umum.

Saya bukan mahasiswa yang aktif di KM-ITB. Tapi saya sempat mendengar demo yang dilakukan oleh KM-ITB di gerbang selatan ITB. Saya tidak mendengarkan isi apa yang mereka demokan, karena penyampaiannya penuh teriakan dan seakan marah. Siapapun akan menganggap bahwa mereka menolak kehadiran Jokowi walaupun sebenarnya menolak politisasi kampus. Kenapa harus berteriak sih? Apakah spanduk yang kalian bentangkan itu tidak bisa dibaca sama orang? Kenapa harus menghadang mereka masuk sih? Apakah di mobil ada alat peraga kampanye? Ada stiker PDI-P? Ada tulisan visi misi Jokowi? Kenapa melakukan sesuatu yang alasannya tidak jelas? Disini menurut saya KM-ITB melakukan langkah yang salah dengan menghadang dan melarang Jokowi berbicara, karena telah menjadi tidak netral, tetapi menjadi pihak yang menolak Jokowi berbicara di kuliah umum.

Lain halnya apabila KM-ITB (atau pihak di belakang KM-ITB, tidak menutup akan kemungkinan ini – baca footnote) tidak ingin citra Jokowi naik, maka Jokowi tidak berbicara adalah harga mati.

Apa yang dilakukan Jokowi? Menurut saya langkah balasan Jokowi adalah tindakan yang baik, yang membuat saya mengerti kenapa Jokowi ditakuti oleh lawan politiknya. Jokowi datang ke kuliah umum, kemudian menyapa, kemudian pergi, dan meninggalkan kesan, “Saya sudah hadir loh, tapi ada yang diluar takut saya malah berpolitik di sini, padahal mau nyampain kuliah tentang tata kota Jakarta.” Jokowi tetap berhasil menaikkan citranya (dengan datang, dan membuat peserta kuliah umum yang hadir kecewa karena demo di luar), tetapi pihak di belakang KM-ITB (let’s say AntiJ) juga berhasil mencegah kenaikan citra yang lebih besar apabila Jokowi berhasil menyampaikan kuliah umum tanpa menurunkan citra-nya sendiri. KM-ITB? Menjadi pihak dengan citra yang turun dan diperalat dengan demo kekerasannya.
1 untuk Jokowi, 1 untuk AntiJ, 0 untuk KM-ITB.

 

footnote:

KM-ITB, dengan sikap netral dan menolak politisasi kampus membuat mahasiswa enggan berpolitik. Hal ini mungkin dianggap bagus oleh banyak “House”, karena mahasiswa dari golongan commoner, dan “House” adalah noble. Walaupun mahasiswa mungkin memiliki kemampuan yang lebih, tapi noble tidak ingin kerajaan mereka diambil alih. Bangsawan mana yang ingin diperintah oleh rakyat jelata? Sikap anti politik ini membuat mahasiswa mudah diperalat. Commoner menjadi bawahan noble karena mereka tidak mengerti dan tidak punya resource. Mahasiswa tetap akan menjadi commoner selama tidak mengerti walaupun punya resource, karena dengan gampang resource itu akan hilang karena lugunya mereka.

One thought on “Analisis Kejadian KM-ITB vs Jokowi

  1. tidak ada yang salah dan tidak ada yang benar, semua orang punya kesempatan untuk menyampaikan pendapatnya dengan cara mereka sendiri. namun jika terlalu gegabah bersikap memang hasilnya kurang baik.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s