Sebuah Artikel Kompasiana yang Menghilang


Jadi ceritanya siang ini dapat share artikel dari Facebook. Saya nge-share lagi artikel tersebut, tapi ternyata 1 jam kemudian ternyata artikel tersebut sudah menghilang. Kebetulan tab artikel tersebut belum saya close, sehingga saya bisa save dan bisa didownload di link ini.

Untuk yang malas ngedownloadnya, berikut saya copy-paste tulisannya. Kalau dilihat dari waktu rilisnya, sudah cukup lama sih, tanggal 18 May 2011 | 23:35, sehingga agak lucu kalau dihapus oleh pihak yang berwenang dengan sengaja. Mungkin dihapus oleh sistem secara otomatis. Entahlah~

Perlu diingat, ini BUKAN tulisan saya, saya hanya mengopy artikel yang saya baca, dan karena sumbernya sudah dihapus, well, let’s just say it’s a random page.

————————————————————————————————————–

Menelanjangi Dugaan Diskriminasi Rasial dalam SNMPTN Undangan: Surat Terbuka Untuk Mendiknas

Bapak Mendiknas yang terhomat,

Surat ini ditulis oleh seorang siswa Smuki(baca: SMAK 1 BPK PENABUR Jakarta). Konon, sekolah tempat saya menimba ilmu ini adalah sekolah dengan tradisi intelektual terbaik di Republik permai nan subur ini. Premis tersebut barangkali bukan tanpa alasan. Smuki adalah kontributor medali terbanyak bagi Indonesia dalam perhelatan olimpiade sains tingkat dunia sepanjang sejarah perjalanannya dan secara konsisten berada di peringkat 1 sampai 3 dalam Ujian Nasional, pada jurusan IPA atau IPS dalam setidaknya 1 dekade terakhir. Tahun lalu, Smuki bersama SMA Taruna Nusantara terpilih sebagai sekolah berkarakter oleh institusi kementerian yang Bapak pimpin.

Bapak, hasil SNMPTN Undangan yang dipublikasikan tanggal 17 Mei 2011 pukul 19.00 lalu mencuatkan tanda tanya besar bagi segenap civitas academica Smuki; sebuah tanda tanya besar yang sukses memperpendek sumbu emosi kami dan bermuara pada luapan amarah kolektif. Sesaat setelah pengumuman, akun twittersaya dibanjiri kicauan yang berisi sebuah ragam bahasa dari poin yang sama dari yang akan saya paparkan dalam surat terbuka ini.

Untuk memulainya, sahabat saya, seorang siswi peraih medali emas dan predikatbest practice pada Olimpiade Sains Nasional biologi 2010, yang juga terpilih sebagai salah satu dari empat delegasi Indonesia untuk International Biology Olympiad 2011 dinyatakan tidak lulus seleksi. Siswi yang juga menjadi juara kelas pada semester 1 lalu mendaftar pada Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Belum lagi setumpuk prestasi yang telah dipersembahkannya bagi tanah air melalui pelbagai kompetisi biologi di dalam dan luar negeri kian memupuk persepsi bahwa seleksi SNMPTN jalur undangan tersebut berkelindan diskriminasi.

Kedua, dari total siswa Smuki yang mendaftar jalur undangan SNMPTN untuk Universitas Indonesia(sekitar 30 siswa termasuk siswi yang saya uraikan diatas) hanya 1 siswa yang dinyatakan lolos seleksi. Termasuk dari seluruh siswa tersebut adalah mereka yang pernah menjadi juara kelas ataupun mereka yang duduk di lokus-lokus penting OSIS.

Sekarang, mari kita bandingkan dengan sebuah sekolah negeri unggulan yang selalu berada pada peringkat teratas UN se-Jakarta di antara sekolah-sekolah negeri tanpa mengikutsertakan swasta dalam 5 tahun terkahir. Walau demikian, sekolah ini amat sedikit menyumbangkan medali di perhelatan olimpiade internasional serta dalam 5 tahun terakhir selalu berada di bawah Smuki dalam peringkat UN. Menurut informasi dari sahabat saya, sekurangnya 20 siswa dari sekolah tersebut dinyatakan lolos seleksi SNMPTN Undangan kali ini.

Mari kita lakukan satu komparasi lainnya dengan sebuah sekolah swasta Katholik tempat saudara saya pernah menepuh studinya. Sekolah ini dalam ujian nasional tahun 2010 silam berada di luar peringkat 100 besar. Dan, sekurangnya 5 siswa sekolah ini dinyatakan lolos seleksi SNMPTN.

Dengan kedua komparasi itu, cukup gamblang bahwa pernyataan dalam handbookSNMPTN bahwa proses seleksi dilaksanakan dengan “memenuhi prinsip adil dan tidak diskriminatif dengan tidak membedakan jenis kelamin, agama, suku, ras, umur, kedudukan sosial, dan tingkat kemampuan ekonomi calon mahasiswa” tak lebih dari sebuah retorika dan wacana di atas kertas belaka. Sekadar catatan, hampir 95% siswa Smuki beretnis Tionghoa. Pun demikian hampir seluruh siswa yang mendaftar SNMPTN jalur undangan tersebut beretnis Tionghoa. Jelas, ini menimbulkan pertanyaan besar ihwal korelasi antara fakta tersebut dengan integritas dalam proses seleksi SNMPTN jalurundangan.

Tambahan lagi, pada tahun-tahun sebelumnya, sekalipun tidak terdapat SNMPTN jalur undangan, namun terdapat seleksi yang lebih kurang serupa, SIMAK UI jalur tanpa tes. Lebih parah lagi, hampir tidak pernah ada siswa Smuki yang diterima menjadi mahasiswa UI melalui jalur tersebut.

Bapak, saya tidak menulis surat ini dengan intensi untuk menyatakan bahwa diskriminasi rasial tersebut pastilah eksis. Sekali lagi, persepsi belum tentu ekuivalen dengan fakta. Persepi hanyalah apa yang diputuskan pengadilan opini publik. Saya hanya meminta, dan sangat berharap, akan kebajikan Bapak untuk mengevaluasi kembali integritas proses seleksi SNMPTN jalur undangan. Tatkala seorang siswa dengan prestasi akademis dan capaian non-akademis yang luar biasa, serta berasal dari sekolah dengan tradisi intelektual yang baik tidak diterima sementara mereka yang jelas-jelas jauh di bawah standar tersebut diterima, tidak terelakkan bahwa benih-benih kecurigaan akan diskriminasi rasial tumbuh subur tak ubahnya jamur cendawan di musim penghujan.

Tak perlu heran jika absennya integritas ini akan semakin meningkatkan esklasi eksodus siswa-siswa cerdas dan brilian ke mancanegara. Adalah sebuah fakta bahwa lebih dari 50% alumni Smuki memilih untuk menempuh pendidikan universitas di mancanegara. Stigma bahwa proses seleksi universitas negeri, mengingat universitas negeri dikenal memiliki catatan prestasi lebih ketimbang universitas swasta, tidak dilakukan secara buta ras turut berpengaruh pada preferensi alumni Smuki tersebut. Bila bom waktu ini terus berlanjut, saya hakul yakin bahwa dalam beberapa hilangnya satu generasi Indonesia unggul tinggal menunggu waktu. Para calon usahawan sukses, dokter dengan ekspertise dibidangnya, pengacara ternama, ataupun profesi lainnya akan tidak ragu untuk memilih pindah ke negara lain di mana seseorang tidak dinilai dengan warna kulit, nama atau ukuran mata mereka, tetapi oleh karakter dan kapasitas mereka.

Pada akhirnya, saya menulis surat ini untuk menyuarakan apa yang lama terpendam oleh kami, civitas academica Smuki ataupun sekolah-sekolah lain bernasib serupa. Sesungguhnya adanya persepsi bahwa diskriminasi terhadap etnis keturunan masih tumbuh subur pada tataran operasional adalah sebuah rahasia umum. Apa yang terjadi dalam proses seleksi SNMPTN jalur undangan silam hanya mempertebal keyakinan sebagian besar warga negara akan validitas persepsi tersebut.

Alangkah bijaknya apabila Bapak berkenan menampilkan ketegasan seorang pemimpin dalam mengkaji kebenaran dugaan miring ini. Saya menulis surat ini karena kecintaan saya pada Republik. Saya menulis semata karena saya tidak ingin kohesivitas kita sebagai sebuah bangsa tercerabut lantaran suburnya diskriminasi rasial. Saya menulis karena saya ingin menyelamatkan imaji keindonesiaan serta masa depan perjalanan bangsa yang dipangun peluh demi peluh, jeruji demi jeruji oleh para pendiri Republik ini.

Salam sejahtera.

4 thoughts on “Sebuah Artikel Kompasiana yang Menghilang

  1. Sudah rahasia umum sebetulnya, saya masuk umptn 1992, di unpad, pada suatu ketika jurusan saya mengumpulkan semua data mahasiswa termasuk ranking nasionalnya saat diterima, kebetulan saya melihat ranking angkatan saya, wow ternyata selisih ranking saya dan teman tionghua (2 org) dengan rata2 angkatan adalah 4000 an, jadi tidak lah heran kalau minoritas kebanyakan lulus cum laude, wong bibit nya sudah beda, sebetul nya tahun 99, habibie blak2an bahwa jatah chinese di ptn dia naikan dr 10 ke 15 persen, ini menurut dia sudah tinggi sekali berkaca dari populasi chinese di indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s