Sebuah Cerita Tentang Perasaan


Kalo orang bilang saya blak-blakan, itu kenyataan, dan ada ceritanya. Aslinya saya pemalu (dan sesungguhnya sampai sekarang), orang tidak melihat saya cukup lama untuk melihat “blush” yang saya sembunyikan atau senyam-senyum yang dipaksakan hilang.

Dulu sih, saya pendiam. Dipuji, nunduk, dipanggil, nunduk, diejek, diem. Eh bener ga ya, hahaha. Ya intinya saya bukan orang yang ekspresif, bukan orang yang ngomong apa yang saya pikirkan. Saya hanya berharap orang bisa mengerti apa yang saya maksud.

Perubahan mulai terjadi saat saya sadar kalau manusia itu manusia, bukan makhluk yang bisa membaca pikiran. Berbagai manga yang saya baca juga bercerita tentang tidak ada gunanya perasaan disimpan-simpan. Yah tapi perubahannya bukan drastis sih, paling cuma jadi lebih responsif dan ngomong secara repulsif. #apeu

Kalo boleh dibilang, yang paling berubah ya saya dengan keluarga. Terutama dengan orang tua. Kalo dibilangin ini, langsung respon dengan sebaliknya. Sangat jarang sependapat. Kalo sependapat itu pun karena ayah dan ibu beda pendapat, jadi memihak salah satu. Sampai sekarang keterusan, kalo ngomong selalu bawaannya emosian dan ngelawan. God, Mom, Dad, please forgive me.

Dengan cewe juga, ya kalo suka ya bertingkahnya beda. Yang menahan supaya ga berlebihan banget cuma pikiran apakah si cewe bakal ngerasa terganggu. Apa gunanya menyukai orang tapi malah menyusahin? Dunia nyata mana ada kaya cerita di komik-komik yang salah satunya begitu baik dan tahan dengan segala kekurangan pasangannya. Manusia ya manusia, bukan setengah malaikat. Sayangnya saya juga manusia biasa yang ga bisa baca perasaan orang. Jadi ga tau apakah si orang terganggu apa gak. Terkadang juga orangnya ga sadar kalo ga suka, trus tanpa sadar ngejauhin. Apa daya saya~

Hal yang paling ga saya dari perasaan adalah saat perasaan mengalahkan logika. Perasaan itu ga ada logika, semua terlihat benar asalkan rasa itu terpenuhi. Padahal hanya perasaan. Kadang saya bilang, perasaan itu nama lain dari nafsu. Logika saya yang bertarung mati-matian menekan perasaan. Sayangnya perasaan itu lebih kuat daripada akal. Hewan aja bisa punya perasaan, tapi ga bisa punya akal. Bukan karena akal lebih berharga, tapi karena perasaan bisa menguasai bahkan binatang.

 Haha. Ngomong apa sih gue.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s