Monarki dan Demokrasi


Harusnya saat ini saya ngoding, tapi udah cape mikir. Padahal biasanya jam-jam segini masih jam-jam jenius, belum masuk ke jam bego. Tapi ya sudahlah. Sambil berusaha tidur, saya menulis saja mengenai hal yang sejak beberapa lama terpikirkan oleh saya. Perlu diperhatikan ini bukan bahasan serius dan mungkin ngasal, karena saya ga memberikan fakta ataupun bukti, jadi ya kalo ga setuju ya udah, jangan mencaci saya. Haha.

Taukan monarki ama demokrasi itu apa? Intinya sih, yang memegang kekuasaan tertinggi dalam pemerintahan itu kerajaan, atau raja, atau ratu, ya royal family lah. Sedangkan demokrasi itu kekuasaan tertingginya dipegang oleh rakyat.

Beberapa bulan ini novel yang saya baca kebanyakan memiliki sistem pemerintahan monarki, seperti Song of Ice and Fire, Soldier’s Son, Assassin Apprentice (dan lanjutannya), Mistborn (yang ini ga terlalu monarki sih), dan banyak lagi, tapi lupa. Dari apa yang saya baca, saya menganggap monarki memilki beberapa kelebihan daripada demokrasi yang merupakan sistem pemerintahan Indonesia.

Monarki, sebagai kerajaan, dipimpin oleh keluarga kerajan, dan biasanya tampuk kekuasaan diturunkan ke anak, atau adik, pokoknya keluarga terdekat lah. Menurut saya ini menjadi kelebihan karena calon penerusnya sudah diketahui sejak dini. Si calon, jika berhasil dididik dengan baik sejak kecil, dan diajarkan bahwa ia adalah calon raja, tentu akan menjadi raja yang jauh lebih baik dibandingkan presiden yang kampanye 6 bulan karena disuruh oleh partai. Apakah si capres emang ingin jadi presiden sejak kecil?

Mungkin ada yang ga setuju, bagaimana jika pendidikannya tidak berhasil? Well, dimana-mana ga ada yang sempurna, jadi sistem monarki juga memiliki kelemahan. Kalau ternyata rajanya bukanlah hasil didikan yang baik, bukan raja yang memang raja, kerajaannya memang bisa hancur dan rakyatnya menderita.

Kerajaan, kebanyakan bermula dari penaklukan. Apakah penakluknya merupakan raja yang kejam? Ataukah raja yang baik? Akar kerajaan ini yang akan nantinya menentukan kelanjutan dari kerajaan. Eh, kalo menaklukkan, berarti kejam dong? Belum tentu, menjadi raja itu (ce i leh macam pernah jadi raja) merupakan beban yang berat, dan terkadang harus bisa mengambil keputusan yang kejam, seperti memperluas daerah kekuasaan, dengan tujuan untuk memakmurkan rakyatnya.

Kerajaan yang umurnya tua dan dipimpin oleh keluarga dengan silsilah yang panjang, akan menjadi kerajaan yang baik. Pada umumnya, seluruh sejarah tersebut diajarkan ke calon penerus, sehingga ia mengetahui apa saja yang sudah dilakukan pendahulunya, dan apa akibatnya. Calon penerus dipersiapkan menjadi raja sejak kecil, jika ia diajarkan untuk menerima beban yang berat tersebut dan diajarkan mencintai rakyatnya, menurut saya sih akan jadi lebih baik dibandingkan negara yang menggunakan sistem demokrasi.

Sistem demokrasi, mungkin karena masih baru, sangat tidak matang. Pikiran ribuan, bahkan jutaan orang, ingin dilaksanakan. Tidak mungkin membuat seseorang senang tanpa menyebabkan orang lain ada yang merugi. Sulit untuk mendapatkan keputusan dimana semua mendapatkan apa yang diinginkan. Perwakilan dari rakyat ditunjuk oleh rakyat, tapi apakah memikirkan rakyat? Siapa sih yang ditunjuk tersebut? Anak siapa? Diajarin apa aja? Tau ga rakyatnya siapa?

Aduh saya ngomong apa sih. Pikiran ini mungkin timbul karena korupsi yang merajalela di negeri ini kali ya, dan susah amat mau ngehukum orang. #abaikan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s