Kenapa Banyak Pencuri?


Mungkin ada yang membaca post saya sebelum ini, yang menceritakan kalau ada maling yang masuk ke kamar saya dan mengambil 2 laptop dan 1 BB, namun berhasil ketangkap sebelum kabur. Oleh karena itu barang-barang tersebut disita oleh polisi sebagai barang bukti. Kami ga bisa mengambilnya, karena ada prosedur yang harus dipatuhi.

Penahanan tersangka tidak bisa sembarangan, butuh barang bukti untuk pengurusan berkas-berkas, oleh karena itu kami tidak bisa langsung mengambil barang bukti saat itu juga. Barang bukti tidak boleh berubah bentuk, warna, apalagi hilang. Oleh karena itu penyitaan barang bukti sangat ditekankan oleh pihak kepolisian.

Selanjutnya setelah berkas penahanan selesai, untuk pengajuan ke persidangan juga memiliki syarat-syarat yang harus dipenuhi, syarat tersebut adalah:

  1. Ada korban, ya jelas ada, saya dan sepupu saya
  2. Ada saksi, ya ada, saya dan juga warga Cisitu
  3. Pengakuan pelaku, pelaku sudah mengaku
  4. Ada barang bukti, 2 buah laptop dan 1 buah BB

Semua syarat tersebut sudah dipenuhi. Dan kami pun menyerahkan barang bukti untuk disimpan oleh polisi. Kenapa barang bukti harus diserahkan? Karena ada peraturan yang menyatakan bahwa barang bukti tidak boleh berubah bentuk, warna, dan saja tidak boleh hilang.

Karena aturan itulah polisi menyimpan barang bukti. Lho tapi saya butuh barangnya pak! Oo.. Tidak isa! Bisa sih, tapi mengajukan surat permohonan untuk pinjam pakai baranf bukti. Permohonan ini bisa diterima bisa tidak, namanya juga permohonan. Kalau ternyata dikabulkan, Alhamdulillah, kalau tidak, apa nak dikata… Bahkan kalau ternyata dikabulkan, sewaktu2 kalau.bb barang bukti diminta lagi, maka peminjam harus siap untuk mengembalikannya.

Permintaan pengembalian barang bukti umumnya terjadi saat kasus diajukan ke pengadilan. Pengadilan akan meminta barang bukti kasus tersebut. Barang bukti tersebut akan diserahkan oleh kepolisian ke kejaksaan, tentu saja permohonan peminjaman barang bukti yang tadi jadi tidak berlaku, karena yang tadi itu merupakan kebijakan kepolisian, sehingga saat perkaranya dilimpahkan ke kejaksaan, kepolisian tidak punya kuasa lagi. Kalau mau minjam barang bukti ya ngurus lagi ke kejaksaan.

Barang yang ada di kejaksaan akan dihadirkan saat pengadilan. Pengadilan ini bisa terjadi hingga berkali-kali. Bahkan kata si polisinya bisa hingga 5 kali. Dan setiap pengadilan barang bukti harus dihadirkan. Benar2 merepotkan.

Sebenarnya ada cara lain yang lebih gampang dan ga lebih repot dibandingkan dengan menyelesaikan perkara hingga tuntas. Ajukab permohonan damai. Dengan demikian kasus tidak akan diajukan ke pengadilan, dan barang bukti dapat kembali digunakan dengan lebih cepat. Tapi ya itu, karena damai, tersangka ga akan dihukum sesuai dengan tindak pidananya. Paling nginap berapa hari di penjara. Tapi pilih mana? Kalau lagi ada tugas dan sangat amat butuh laptop yang dicuri tersebut, tentu akan memilih damai aja kan? Kami pun demikian. Solusi baik hati ke pelaku tersebutlah yang kami pilih. Polisi itu pun menyetujuinya. Katanya besok udah bisa diambil laptopnya.

Esok harinya, ternyata bapak yang kemaren ingin mendamaikan kami sudah tidak ada dan di luar kota. Bapak polisi yang sekarang malah mengatakan tidak mungkin mengajukan damai, karena berkasnya udah di ajukan ke kejaksaan dan tidak bisa ditarik lagi. APA APAAN SIIH. Maka dengab pasrah kami hanya bisa mengiya-iyakan saja. Dan terluntang-lantung lah kami berusaha untuk peminjaman laptop tersebut.

Jadi, moral of the story nya adalah, kalau ketemu maling, gebukin aja ampe puas, mati atau tidaknya dia urusan nanti, ga usah sok-sok baik. Soalnya di pihak yang berwenang masalahnya panjang. Kalau udah digebukin, ngajuin damai ga masalah kan, paling tidak si pelaku udah dapat hukuman. Trus kalau barang yg dicuri itu dibutuhkan, jangan ragu-ragu untuk ngajuin damai, lebih penting diri lu daripada masa depan orang lain yang ntah siapa dan mungkin jadi korban berikutnya yang bebas karena perdamaian. Jangan dendam2 amat juga ama malingnya, toh udah digebukin.

Lalu untuk yang mau jadi maling, pilihlah barang yg kalau barang tersebut ga ada maka korban akan kesulitan, sehingga chance untuk berdamai lebih besar, lalu kalau tertangkap, jangan berbohong, tapi segeralah mengaku dan memohon ampun dan ceritakan sejujurnya, toh ga bakalan lama kalau berdamai, daripada digebukin? Polisi juga bakal ngegebukin lagi di kantor, kalau ga ngaku juga. Makanya banyak yang jadi pencuri, gara-gara gampang gini perlakuannya. Apalagi kalau malingnya pintar, ckckck. Ada yang salah dengan sistem hukum di Indonesia ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s