6 Days. Beautiful. Lone.


#4 – Senin, 6 Juni 2011

Hari masih pagi saat aku bangun. Ibuku terbaring  di lanta sebelah tempat tidurku. Suasana pagi yang tenang diderai oleh dentang bel gereja. Aku tidak mengerti maksud belnya, tidak berdentang tujuh kali yang menandakan sekarang pukul tujuh pagi. Mungkin menandakan waktu mulai bekerja atau hal lain. Entahlah.

Botol yang menampung cairan dari dalam perutku terhubung dengan selang, dan masuk menembus kulitku di kanan pusar. Perban yang melapisi dari kondisi non-steril juga menjaga agar selang tersebut tidak lepas dari dalam tubuhku. Perban kedua terdapat di bagian tengah tubuhku, sepanjang perut melintang hingga ke bagian bawah rusuk. Kedua perban kasa putih itu dilekatkan dengan plester di sisi-sisinya.

Okay, saya udah capek pura-pura menulis novel. -__-

Balik ke gaya biasa. Jadi pagi hari berlalu dengan biasa. Belum boleh makan. Belum boleh minum. Kemudian dokter Simon (ini dokter yang membedah saya) datang dan melihat kondisi. Dan kemudian dia memperbolehkan untuk minum. Paling banyak 10 cc untuk 1 jam. Sekitar 1 sendok makan. Ouch. Ya sudahlah paling ga udah boleh minum.

Siang ini mungkin temanku akan datang lagi. Tapi harapan itu tak kubiarkan melambung tinggi. Karena tau kemungkinan itu kecil. Berdasarkan pengalaman, kalau orang tua udah datang, maka kunjungan ke rumah sakit akan berhenti. Entah karena mereka segan, entah karena mereka menganggap dengan adanya orang tua udah cukup. Kalau saya sih tidak merasa cukup. -_- Teman itu beda dengan orang tua atau keluarga.

Dan benar saja. Hari berlalu dengan kebosanan hingga siang hari. Aku masih menaruh harapan kalau jam berkunjung sebenarnya jam 16:00. Ibuku kemudian ingin mampir ke kosan, mau mengambil beberapa barang lagi setelah kemaren sore ia juga telah kesana. Kalau kemaren saya nitip novel Time Quake, hari itu saya juga nitip Time Quake. Karena kemaren ibu salah membawa, bukan membawa Time Quake tapi membawa Software Engineering: A Practitioner Approach. Astaga. -____- Sepertinya ia hanya mencari buku paling tebal untuk dibawa dan bukan melihat judul.

Hari semakin panas. Perintah dokter Simon untuk menggeliat miring kiri miring kanan agar cairan kotor dalam perut keluar pun kulaksanakan dengan senang hati karena panas tubuh yang menempel ke kasur. Rasa ingin tidur hampir tidak ada karena panas itu. Dahaga semakin besar karena tidak ada lagi satu sendok makan air minum setiap jam. Tanganku tidak mampu menggapai meja di sisi kanan ku. Aku hanya bisa pasrah.

Saat ibuku pulang waktu membosankan pun berakhir. Karena novel Time Quake sudah berada di tangan. Dan sepanjang hari kuhabiskan dengan membaca novel tersebut. Sore berlalu begitu saja. Aku sudah lupa dengan jadwal berkunjung dan malam pun tiba. Sudah 3/4 bagian novel kuhabiskan. Dan baru terlintas pikiran di benakku bahwa sebaiknya aku menghemat bacaanku karena sudah tidak ada lagi yang bisa dibaca.

Aku berusaha menghabiskan waktu dengan usaha lain. Menghabiskan pulsa dengan browsing internet melalui HP. Menjawab beberapa pertanyaan yang bisa dijawab. Mengenai pertanyaan, aku teringat dengan jawaban pertanyaan dari ibuku yang bertanya apakah sakit. Aku hanya menjawab dengan tidak tahu. Aku sudah lupa bagaimana rasa tidak sakit. Perutku tidak terasa sakit saat itu tapi ini rumah sakit. Dan kegiatanku tidak normal. Entahlah.

Saat memegang HP, teringat untuk meminta pinjaman novel ke siapapun, dan kena sasaran ke Lisa, ia berjanji akan membawa beberapa buku miliknya esok hari. Aku pun sedikit lebih tenang untuk hari itu, setidaknya bisa melanjutkan bacaan. Tapi kemudian memilih untuk berusaha tidur.

Semakin kuberusaha tidur semakin tidak ingin tidur. Jam di HP sudah menunjukkan pukul 20:30. Aku meminta suster untuk mematikan lampu yang bersinar langsung tepat mengarah mataku, sebagai alasan tidak bisa tidur. Kamar pun jadi lebih gelap. Bilikku sudah cukup gelap malah. Tapi rasa gelisahku tak kunjung reda. Tidak bisa tidur, dan perut serasa bergemuruh, membuatku mual. Aku mulai memikirkan yang aneh-aneh. Berusaha mengalihkan perhatian, aku menyalakan lampu baca di tempat tidur dan mengambil kembali buku setengah selesai tadi.

Perasaan sakit di perutku itu tak kunjung hilang. Sementara bacaan yang kian mendekati akhir tak bisa mengalihkan perhatian dari rasa bergemuruh itu. Di puncak rasa sakit tiba-tiba muncul suara, yang saat itu ternyata sangat kurindukan. Rasa bahagia menemani hilangnya rasa rinduku. Rasa gemuruh itu reda menghilang bersama siksa batinku.

Inflatus.

Aku tidur setelah bacaanku habis.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s