6 Days. Die. End. #part1


#1 – Jumat, 3 Juni 2011

Paginya bangun seperti biasa, selera makan tidak ada. Menunggu hingga jam 9 sebelum menuju tempat Denis untuk mengejar deadline game compfest. Still much to do, but the feels to eat is nowhere. Sesampainya di tempat Denis, hanya membahas sedikit hal, bahkan sempat tertidur sekitar satu jam tanpa mengerjakan apapun. Sekitar jam 11 lebih, pulang untuk sholat Jumat, dan perasaan ingin makan masih tidak ada.

Pulang Jumatan, membeli roti sari sebagai usaha untuk mengisi perut. Daripada tidak makan sama sekali, setidaknya bisa usaha untuk mengisi perut. Bahkan sebelum makan kembali tertidur sebentar. Hingga akhirnya telat kembali ke tempat Denis. Karena udah merasa terlalu banyak ga ngapa-ngapain hari ini, akhirnya membuat apapun asal jadi yang penting gamenya bisa jadi playable.

Sorenya langsung pulang lagi. Berharap besok bisa baikan, makan obat maag dan langsung bawa tidur. Merasa agak demam, meng- “kompres” diri dengan lap yang dibasahin dan diletak di kepala agar bisa tidur lebih nyenyak. Rasanya waktu itu berhasil tidur, tapi kemudian terbangun mendadak dengan kompress sudah dipindahkan ke perut. Perasaan tidak enak di perut semakin menjadi. Merasa ingin buang air, tapi tidak ada yang bisa keluar. Semakin pusing hingga memutuskan kembali ke tempat tidur.

#2 – Sabtu, 4 Juni 2011

Subuhnya, jam 4, kembali terbangun. Harapan agar baikan semakin sirna, hingga tidak tertalang lagi dan berteriak serasa menghilangkan sakitnya. Teringat dengan teman yang sering sakit maag dan bilang, dengan disuntik sakitnya akan langsung hilang, ku putuskan untuk langsung menghubunginya minta tolong diantar, dengan SMS agar tidak mengganggunya di subuh hari itu. Apa saja asal sakitnya hilang.

Jam 5 datang balasan SMS akan segera datang, Dan sebelum jam 6 kami sudah di UGD rumah sakit. Untunglah penanganannya cepat, sebelum jam 7 sudah disuntik, sudah diberi obat yang rasanya menenangkan perut. Ya, seharusnya udah baikan. Berdasarkan pengalaman temanku itu pun begitu. Dokter dan suster pun terlihat santai setelah itu. Walau salah seorang suster yang bertanya demamnya sejak kapan, karena suhu badan saat itu cukup tinggi, sekitar 38,5 .

Harusnya udah baikan. Ya. harusnya udah baikan, pikirku dalam hati. Berusaha tidur agar segera bisa pulang, khawatir temanku yang mengantar itu punya kesibukan lain. Tidur, ya, seharusnya aku tidur. Tidur.

Sedikitpun tidak bisa tidur, perutku masih sakit. Rasanya ada sesuatu yang memaksa keluar, dan meninju dari dalam. Teriakan tertahan kembali keluar dari mulut. Tidak, aku tidak mungkin hamil, jika ada yang berpikir demikian. Entahlah, you know,Β perasaan itu tidak bisa digambarkan dengan tepat menggunakan kata-kata. Mengingatnya kembali bahkan membuat mual perutku.

Segera saja darahku diambil untuk cek darah sekitar jam 7:15. Dokter juga kemudian mengatakan mungkin harus rawat inap. Apa? Rawat inap? Tidak, sebisa mungkin aku tidak ingin rawat inap. Terlalu banyak yang direpotkan. Tidak. Walau kemudian aku dijadwalkan untuk USG. Waktu berlalu begitu lambat. Rasa sakit pun tidak kunjung berkurang hingga diberi obat yang dimasukkan melalui dubur. Setidaknya itu mengurangi rasa sakit dan bisa membuat tidur.

Sekitar jam 10, atau mungkin 9, entahlah, waktu tidak berasa penting lagi. USG pun dilaksanakan, dokter yang mengambil foto USG hanya diam saja, tidak memberi tahu apa-apa tentang penyebab sakit di perutku ini. Kediaman yang mencekam, if you ask me. Dalam perjalanan dibawa kembali ke bilik UGD, suster yang mendorong tempat tidur membisikkan, “sepertinya kamu kena usus buntu, dan udah pecah”.

Runtuh sudah pertahanan itu, aku pasrah saja dengan semua yang dikatakan orang. Orangtuaku pun langsung menghubungi, entah kabar darimana, padahal belum ada pernyataan resmi. Temenku yang lain pun datang, dan dia yang bertanggung jawab atas semua yang akan dilakukan rumah sakit, selagi menunggu keluargaku datang. Obat yang mengurangi rasa sakit sebelumnya itu masih memiliki efeknya, karena aku tidak berteriak lagi. Air tidak lagi kuminta, sejak terakhir minum air adalah setelah disuntik pertama kali, tahu akan operasi yang akan segera dilakukan.

Kebenaran akan kabar itu pun datang. Aku hanya ingin terus tidur saja. Haha. Tidak peduli lagi. Kuberikan nomor orang tuaku ke temanku itu. Dan aku percaya sama dia. Temanku yang mengantar sudah pulang, gantian datang dengan temanku yang lain, jadi masih tetap ada dua orang di dekatku. Kamar untuk rawat inap pun kemudian di pesan. Sekitar jam 13:00, infus kemudian dipasang di tangan kiriku. Tempat tidurku pun dibawa. Kedua temanku mengikuti di samping. Percakapan pun terjadi. Di lift, ada seorang anak kecil yang bertanya “Ibu, abang ni kenapa?”. “Lagi sakit”, kata ibunya. “Kok ga mati?”. Haha, anak kecil. Semua pun tertawa. Aku hanya bisa tertawa tertahan. Sudah tidak bisa lagi tertawa dengan perut seperti ini.

Di depan sebuah ruang, perawatnya berkata kepada teman-temanku, “Tunggu dulu di sini ya? Mau masuk ruang operasi”. Apa? Udah mau operasi sekarang?? Ya sudahlah. Telepon genggam kutitipkan ke temanku. Aku hanya pasrah saja. Berusaha tersenyum dan menanggapi kelakar para perawat. Mereka berusaha menenangkanku. Aku sudah tenang kok.

Di ruang operasi, kelakar dokter dan perawat masih berlanjut. Berkali-kali ditanya oleh orang yang berbeda, alergi apa, beratnya berapa, terakhir makan-minum kapan, tentu saja jawabannya tidak akan berubah.

Seorang dokter mendekat dan berdiri disampingku. Mengutak-atik infus yang ada di lengan kiriku. Perasaan bergelembung masuk ke tubuhku. Tiba-tiba pikiran ku berat. Mataku berkedip sekali. “Oh, ini rasanya di bius total”. Kubuka lagi. Dan kuserahkan diri. Bismillahirrahmanirrahim.

Gelap.

3 thoughts on “6 Days. Die. End. #part1

    1. Oh ya? Emang niatannya sengaja ngebuat kaya novel sih. Tapi ngebuat gw bosan kalo gw yang baca. Ga tau deh kalau yang lain. Haha. Tiap orang kan beda.πŸ˜›
      Kalo lu bilang keren, tapi suka ga?πŸ˜›

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s